Akhirnya, Gelen Bisa Ikut

Sabtu pagi, anak-anak dan para gurunya baru saja selesai bersenam pagi. Setiap hari Sabtu sebelum jam pelajaran dimulai, anak-anak di sekolah Adit bersenam pagi. Para guru pun ikut serta. Sebelumnya, dilakukan pemanasan yang dipimpin Bapak Guru Olahraga.
“Salam Olahraga! Hari ini, tanggal 9 September, masyarakat Indonesia kembali memperingati Hari Olahraga Nasional atau Haornas!” kata Pak Eko, “Peringatan Hari Olahraga Nasional tahun ini mengusung tema Gelanggang Semangat Pemenang.”
Anak-anak kelas enam diam mendengarkan perkataan gurunya. “Apa acara kita memperingati Haornas, Pak?” tanya Adit.
Adit, wakil ketua kelas, anak yang kritis dan suka bertanya. Mendengar pertanyaan anak muridnya itu, Pak Eko tersenyum.
“Di sekolah, tidak ada acara khusus. Hari ini saja tidak dilaksanakan upacara. Akan tetapi, semangat berolahraga harus terus kita gelorakan,” tukas guru berkaca mata itu.
“Pak!” teriak Tegar sambil mengacungkan jari telunjuk.
“Iya, Tegar, bagaimana?” jawab sang guru.
“Bagaimana jika pada hari Minggu diadakan acara sepeda santai. Kakak kelas enam dulu bersepeda dengan Bapak. Bagaimana, Teman-teman, setuju?” Tegar memberikan usulan.
“Setuju …!” suara koor anak-anak kelas enam membahana seantero ruang berukuran 8 x 7 meter itu.
“Iya, Pak. Tapi kalau bisa jangan hari Minggu pagi. Soalnya sepeda baru ayahku dipakainya nggowes sama teman-temannya, Pak,” usul Lintang.
Buana yang duduk di dekatnya berbisik, “Lintang, jangan pamer! Mentang-mentang sepeda kau baru.”
“Lho, bukannya itu fakta, Na?” balas Lintang dengan suara lirih.
“Wah, sepeda ayah Lintang baru, ya?” komentar Pak Eko. “Mari kita bermusyawarah!” ajak Pak Eko.
Anak-anak pun bermusyawarah. Akhirnya, meskipun tidak hari Minggu besok, Minggu lusa disepakati bersepeda bersama. Mereka bersepeda dalam rangka memeriahkan Haornas, meskipun hanya mengelilingi beberapa desa sekitar sekolah.
“Kumpul jam berapa, Pak? Jam enam? Jam setengah tujuh, atau jam tujuh?” tanya anak-anak bersahutan.
“Rumah saya paling jauh, loh,” kata Pak Eko. “Bagaimana jika kita kumpul jam setengah tujuh saja?”
Anak-anak mengiyakan, musyawarah hari itu pun usai. Tiba-tiba Gelen mendekati sang guru.
“Pak. Saya tidak bisa ikut bersepeda, Pak,” kata Gelen kepada Pak Eko.
“Kenapa. Apakah sepedamu rusak?” tanya Pak Eko.
“Tidak, Pak. Saat sepeda santai, saya sekolah Minggu,” kata Gelen sambil menundukkan kepala. Gelen, satu-satunya murid beragama Katolik di kelas enam.
Pak Eko baru menyadari. Ia hampir lupa bahwa Gelen Giovani Saputri adalah satu-satunya murid kelas enam yang tidak beragama Islam. Ia adalah jemaat Gereja Santo Petrus yang ada di desa tempat tinggalnya.
“Maaf, Gelen. Saya lupa. Pada waktu musyawarah kemarin, saking serunya, saya sampai lupa kalau Gelen harus ke gereja,” jelas Pak Eko.
“Tidak apa-apa, Pak. Sebenarnya, biasanya sekolah Minggu pada jam 17.00. Nah, sejak gereja dibuka, sementara kami diminta datang pukul 7.30,” terang Gelen.
“Sebenarnya, kurang seru loh kalau Gelen nggak ikut. Tapi, beribadah kepada Tuhan juga merupakan kewajiban. Sekali lagi Pak Eko minta maaf ya, Gelen?” kata Pak Eko dengan nada menyesal.
“Iya, Pak. Tidak apa-apa. Mari, Pak. Saya pulang dulu,” kata Gelen sambil berpamitan.
Sambil memandang punggung anak didiknya yang semakin lama menghilang di kejauhan, Pak Eko menghela napas panjang. Ada rasa sesal akibat kelupaan. Gelen pun diam saja sehingga Pak Eko tidak menyadari ada siswa di kelas yang harus melaksanakan ibadahnya pada hari Minggu. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Bagaimanapun, hasil musyawarah harus dihormati.
Pada hari Minggu yang disepakati, anak-anak sudah bersiap dan berkumpul di halaman sekolah. Beraneka jenis sepeda dibawa anak-anak. Ada sepeda BMX, sepeda jengki, sepeda ontel, sepeda mini dengan keranjang belanja di depan, maupun sepeda balap yang memiliki beberapa gigi roda pengatur percepatan.
“Pak Eko belum datang juga, ya?” celetuk Lintang.
“Iya. Mungkin masih di jalan. Sepeda Pak Eko kan sepeda ontel. Lagi pula rumah Pak Eko sekitar 11 kilo dari sini,” tukas Coki menjelaskan.
Sambil menunggu Pak Eko, terlihat anak-anak berkeliling mengitari lapangan voli. Sebagian lagi duduk santai sambil minum air teh manis yang mereka bawa dari rumah.
“Nah, itu Pak Eko!” teriak anak-anak senang ketika melihat gurunya mengayuh sepeda mendekati gerbang sekolah.
“Maaf, anak-anak, saya agak terlambat. Saya tadi mampir ke tempat Pak Riyadi. Beliau akan bersama-sama kita bersepeda ria,” jelas Pak Eko. Pak Riyadi adalah teman Pak Eko yang sekarang menjadi kepala sekolah di desa tetangga.
“Siap, Pak!” teriak anak-anak bersamaan.
Segera anak-anak berbaris rapi. Sepeda yang memiliki standar distandarkan, sedangkan sepeda yang tidak memiliki standar dipegang anak-anak di sisi kanan badan tuannya. Mereka dipimpin Pak Eko berdoa bersama.
“Rute yang akan kita tempuh sebagian adalah jalan raya. Oleh karena itu, harap hati-hati dan tidak boleh saling mendahului. Jika ada sepeda teman yang kebetulan rusak atau bannya kempis, teman yang lain harus menunggu. Sepakat?” Pak Eko memberi nasihat.
Ketika barisan akan beranjak pergi, tiba-tiba Lintang berteriak, “Pak, Gelen datang!”
Semua mata menuju ke arah Gelen yang terlihat terengah-engah mengayuh sepedanya.
“Tidak jadi sekolah Minggu, Gelen?” tanya Pak Eko heran. Ia tidak ingin disalahkan, gara-gara acara bersepeda, Gelen bolos beribadah.
“Pada Sabtu sore kemarin kami mendapat kabar kalau sekolah Minggu untuk kelompok kami dilaksanakan pada jam 17.00 nanti sore,” jawab Gelen dengan sopan.
Mendengar penjelasan Gelen, Pak Eko mengajak anak-anak bertepuk tangan karena peserta sepeda santai hari itu lengkap, bahkan bertambah dengan Pak Riadi beserta cucunya.
Musi Rawas, 20 September 2023
PakDSus