Andika
“Bu Eka, Bu Eka,” suara lembut lembut Andika lirih memanggilku. Anak berkebutuhan khusus karena tuna daksa itu cukup akrab denganku, guru kelasnya.
Andika adalah anak periang. Meskipun ia cacat fisik, tetapi jauh dari sifat rendah diri. Aku bisa merasakan setiap kali bercengkerama atau melihatnya bermain dengan teman-temannya.
“Iya …,” aku pun menoleh ke arah Andika. “Andika, sakit?” aku balik bertanya. Kulihat raut mukanya murung. Wajah bersihnya yang dihiasi rambut lurus tebal bersisir miring bak Kak Seto kelihatan agak pucat. Aku pun refleks meraba keningnya. Tidak panas layaknya anak yang sakit.
Andika pun menggeleng seraya menggelengkan kepala, “Tidak, bu!”
Aku balas jawabannya dengan senyuman. Tidak ada gunanya bertanya “mengapa” karena hanya akan dijawab “tidak apa-apa”. Karenanya, aku tidak bertanya “mengapa”, tetapi merangsangnya dengan pertanyaan yang memancingnya berbicara.
“Hmmm, Ibu kira Andika sedang sedih atau lagi ada masalah,” aku mencoba meraba hati siswaku yang biasanya periang.
“Dika sedih, Bu,” jawab Andika sambil menundukkan kepala.
“Oh, iya. Ada kawan yang nakal. Atau ayah tadi marah?”
Si periang itu pun menjawab sambil kami saling bertatap, “Kita akan libur.”
Agak kaget aku mendengar penuturannya. Namun, aku sembunyikan rasa kagetku dengan memberinya senyuman.
“Iya. Kita akan berlibur. Berlibur itu menyenangkan, bukan?” kataku sambil berjongkok agar kami sama tinggi.
“Kali ini, tidak.” Andika memainkan jari tangannya yang masih normal. Sementara jari kirinya yang membengkok dan kecil diam menggantung.
Terus terang agak terkejut mendengar jawaban Andika. Tetapi konyol jika aku bertanya “kenapa”.
“Dika sedih tidak diajak liburan?” tanyaku memancingnya.
“Ibu juga begitu, sedih jika tidak diajak liburan,” kataku lagi berharap Andika mau memberikan alasannya.
Dia pun menggeleng. Kami terdiam beberapa saat.
“Oke deh, Ibu senang loh kalau Dika cerita sedihnya Dika. Yuk, kita cerita di bangku panjang bawah pohon sana!” pancingku sambil mengajaknya berjalan ke arah bangku panjang di bawah rindang pohon peneduh.
Setelah kami duduk di bangku itu, ia pun dengan lancar bercerita tentang liburan kali ini. Katanya, ia harus ke Jawa ikut orang tuanya mudik. Sementara di kelas aku bercerita tidak pulang ke Jogja dan berlebaran di Sumatera saja. Ho ho… rupanya Dika ingin kalau lebaran nanti mau ke rumah. Ia akan mengajak kawan-kawannya bersilaturahmi karena ia belum pernah sekalipun silaturahmi ke rumahku. Maklum, hampir karena setiap tahun kami mudik.
“Aku ingin ke rumah Ibu Eka!” mata Dika tajam menatapku. Aku hanya tersenyum.
“Oh, Dika ingin ke rumah ibu? Aduh, terima kasih. Tapi ikut orang tua, menurut dengan mereka itu wajib. Baik. Nanti sebelum Dika berangkat, ajak kawan-kawan buka bersama di rumah ibu,” kataku sambil kupegang kedua pipi Andika yang kini berubah memerah, matanya pun berbinar.
Setelah bersalaman dan mencium tangan, dia pun berjalan perlahan kembali menuju ke depan kelasnya menghabiskan waktu istirahat yang tinggal lima menit lagi.
***
“Mama menangis?” tanya Tari, anak keduaku.
Aku tersenyum, lalu segera kuhapus titik-titik air mata yang tadi tidak kuasa aku tahan.
“Mama hanya sedih sedikit. Mama teringat dengan Dika, murid Mama yang tuna daksa dulu. Entah, Mama rindu sekali dengan dia.”
“Emang Dika sekarang di mana, Ma?” tanya Tari.
“Ia sudah tiada, Nak. Tahun belakang ia ingin ke rumah kita. Ketika itu Dika jadi murid kelas Mama. Katanya ia ingin silaturahmi ketika lebaran. Tetapi Dika sedih karena harus ikut orang tuanya mudik. Tari ingat ‘kan buka bersama di rumah waktu itu? Itu usul Mama agar Dika tidak bersedih. Rupanya, Tuhan berkehendak lain. Sebelum ia pulang ke Sumatera lagi, Dika mengalami demam panas yang tidak kunjung reda hingga merenggut nyawanya,” jelasku panjang lebar kepada Tari, gadisku yang masih duduk di kelas 8.
Angin sore semilir berembus sejuk. Semoga arwah Dika di sana tenang di sisi-Nya.
#onedayonestory
#30daysreadingastorywithyourkids
#AISEIWritingChallenge
#gigih

Cepat sekali Andika pergi…
Cerpen pak D…. Waaaw … Jadi terharu iniih…
Mantap, mengharukan.
Selamat Pak D. Lanjut cetak.
Aamiin
Terharu … membacanya.
Sedih… Dika anak baik
Siap, Om. Makasih.
Andika anak hebat