artikel

Apakah Setiap Mata Pelajaran Ada Kokurikulernya?

Ilustrasi merencanakan kegiatan Kokurikuler (Gambar: magnific.com)

BLOGSUSANTO.COM – Seorang rekan guru bertanya, “Apakah setiap mapel ada kokurikulernya? Bukankah kokurikuler mengambil alokasi waktu satu jam dari jam intrakurikuler?”

Sahabat Pembelajar, jika menelisik kembali Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, alokasi waktu mata pelajaran terdapat alokasi waktu intrakurikuler dan alokasi waktu kokurikuler. Sahabat pembelajar dapat membuka kembali postingan tersebut di sini.

Misalnya, Pendidikan Agama dan Budi Pekerti memiliki alokasi waktu intrakurikuler sebanyak 108 JP per tahun dan kokurikuler sebanyak 36 JP per tahun. Itu artinya, dalam satu minggu, intrakurikuler PABP sebanyak 3 JP dan kokurikuler sebanyak 1 jam pelajaran.

Namun, hal itu bukan berarti mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti mengajarkan mapel pendidikan agama berdasarkan Capaian Pembelajaran sebanyak 3 JP per minggu dan mengajar kokurikuler khusus agama 1 jam pelajaran.

Jika tidak demikian, lalu bagaimana? Berikut penjelasan sederhananya.

Di sekolah ada tiga jenis kegiatan belajar. Ketiga jenis kegiatan itu adalah:

1] Intrakurikuler
Kegiatan belajar di kelas. Contohnya pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, dan lainnya. Materi diajarkan dalam rangka memenuhi CP (Capaian Pembelajaran).

2] Kokurikuler
Kokurikuler adalah Kegiatan yang mendukung dan memperkuat pembelajaran di kelas. Tujuannya bukan menambah materi pelajaran, tetapi membantu siswa mengembangkan kompetensi dan karakter.

Sebelumnya, kokurikuler dilaksanakan paling sedikit dalam bentuk projek penguatan profil pelajar Pancasila (P5). Pada peraturan baru ini, kokurikuler dilaksanakan dalam bentuk: a) pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, b) gerakan 7 (tujuh) kebiasaan anak Indonesia hebat, c) dan/atau cara lainnya.

3] Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan untuk mengembangkan minat dan bakat. Kepramukaan sebagai ekstrakurikuler wajib. Selain itu tidak disebut secara eksplisit, sekolah bisa saja menentukan ekstrakurikuler (ekskul) olahraga, kesenian, paduan suara, KIR, dan sebagainya.

Ketiga kegiatan tersebut saling melengkapi agar peserta didik berkembang secara utuh.

Tujuan Kokurikuler

Kokurikuler bertujuan untuk: memperdalam pembelajaran di kelas, menguatkan karakter peserta didik, membantu siswa menerapkan ilmu dalam kehidupan nyata, membentuk Profil Lulusan sesuai kebijakan Kurikulum Nasional.

Dengan kata lain, kokurikuler bukan pelajaran tambahan, tetapi pengalaman belajar yang membuat ilmu menjadi lebih bermakna.

Perubahan Kokurikuler

Sebelumnya, kegiatan kokurikuler identik dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Sekarang bentuknya lebih fleksibel. Sekolah dapat memilih salah satu atau menggabungkan beberapa bentuk berikut.

1] Kolaborasi lintas disiplin ilmu

Guru dari dua atau lebih mata pelajaran bekerja sama membuat kegiatan. Contohnya:

Guru IPA da Matematika membuat proyek lingkungan. Guru Bahasa Indonesia dan IPS membuat proyek sejarah daerah. Anak belajar melihat hubungan antarilmu, bukan belajar mata pelajaran secara terpisah.

2] Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat

Sekolah dapat membangun kebiasaan baik, seperti: bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat, gemar belajar, bermasyarakat, kebiasaan positif lainnya.

Misalnya setiap pagi siswa salat berjamaah, senam bersama, membaca buku, atau melakukan kegiatan sosial.

3] Cara lainnya

Sekolah boleh membuat kegiatan khas sesuai kebutuhan. Misalnya: bulan literasi, pekan seni, proyek kewirausahaan, konservasi lingkungan, festival budaya, kegiatan khas sekolah lainnya.

Yang penting kegiatan tersebut tetap mendukung perkembangan karakter siswa.

Apa yang Dikembangkan dalam Kokurikuler?

Jika intrakurikuler menggunakan Capaian Pembelajaran (CP) sebagai acuan, maka kokurikuler menggunakan Alur Perkembangan Kompetensi (APK). APK berisi delapan dimensi Profil Lulusan: keimanan dan ketakwaan,
kewargaan, komunikasi, kolaborasi, kreativitas, penalaran kritis, kesehatan, kemandirian.

Guru memilih dimensi yang ingin dikembangkan, lalu merancang kegiatan yang sesuai.

Tema Ditentukan Sekolah

Berbeda dengan P5 dahulu, sekarang pemerintah tidak menentukan tema, sehingga sekolah bebas memilih tema sesuai kebutuhan. Contohnya: peduli lingkungan, hidup sehat, budaya lokal, literasi, kewirausahaan, kebersihan sekolah.

Hal ini membuat sekolah lebih leluasa menyesuaikan kegiatan dengan kondisi masing-masing.

Siapa yang Menjadi Fasilitator?

Dalam kokurikuler, guru tidak selalu mengajar sesuai mata pelajarannya. Sebab, guru berperan sebagai fasilitator. Artinya guru mendampingi, membimbing, dan memastikan kegiatan berjalan baik.

Contohnya, Guru Matematika dapat mendampingi kegiatan senam. Guru IPA dapat mendampingi kegiatan ibadah. Guru Bahasa Indonesia dapat mendampingi kegiatan kebersihan sekolah.

Saat menjadi fasilitator, guru tidak mengajarkan mata pelajarannya, tetapi membantu siswa menjalankan kegiatan kokurikuler.

Apa Tugas Koordinator?

Selain fasilitator, sekolah juga memiliki koordinator kokurikuler. Tugasnya antara lain: menyusun program;
mengatur jadwal; mengoordinasikan guru; memastikan kegiatan berjalan; membuat laporan hasil pelaksanaan.

Koordinator adalah pengelola program, sedangkan fasilitator adalah pendamping kegiatan.

Bagaimana Merancang Kokurikuler?

Secara sederhana ada lima langkah.

1] Tentukan dimensi yang ingin dikembangkan. Misalnya kreativitas atau kolaborasi.

2] Tentukan tema. Misalnya peduli lingkungan.

3] Pilih bentuk kegiatan. Apakah: proyek lintas mata pelajaran, gerakan tujuh kebiasaan, atau kegiatan khas sekolah.

4] Susun tujuan belajar. Tujuan diambil dari Alur Perkembangan Kompetensi (APK), bukan dari Capaian Pembelajaran.

5] Siapkan asesmen. Guru mengamati perkembangan siswa selama kegiatan berlangsung.

Penilaian Kokurikuler

Penilaian kokurikuler berbeda dengan mata pelajaran. Kokurikuler tidak menggunakan nilai angka. Guru mengamati perilaku dan perkembangan siswa.

Hasilnya dikelompokkan menjadi: belum berkembang, berkembang, cakap, mahir. Penilaian dilakukan melalui observasi selama kegiatan berlangsung.

Alur Kegiatan Kokurikuler mengikuti tiga tahap.

a] Memahami. Siswa mengenal masalah atau materi.

b] Mengaplikasikan. Siswa melakukan kegiatan secara langsung.

c] Merefleksikan. Siswa berpikir kembali tentang pengalaman yang diperoleh dan pelajaran yang dipetik.

Kapan Suatu Kegiatan Disebut Kokurikuler?

Suatu kegiatan dapat disebut kokurikuler apabila memenuhi empat syarat.

Bertujuan mengembangkan satu atau lebih dimensi Profil Lulusan.
Memiliki tema yang jelas.
Menggunakan alokasi waktu sesuai struktur kurikulum.
Memiliki perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen yang jelas.

Jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, kegiatan tersebut belum dapat disebut sebagai kokurikuler.

Sahabat Pembelajar, kokurikuler merupakan bagian penting dari kurikulum yang berfungsi menghubungkan pembelajaran di kelas dengan pengalaman nyata. Melalui kokurikuler peserta didik memperoleh pengetahuan. Selain itu, mereka juga belajar bekerja sama, berkomunikasi, berpikir kritis, menjaga kesehatan, berkarakter baik, serta menjadi pribadi yang mandiri.

Banyaknya kegiatan tidak menentukan keberhasilan kokurikuler. Yang menentukan keberhasilan adalah seberapa baik kegiatan tersebut membantu peserta didik berkembang sesuai Profil Lulusan yang diharapkan.

Musi Rawas, 14 Juli 2026
Salam Guru Pembelajar,

PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.