artikel

Berbagi Virus Literasi Bersama PGRI Cabang Ketanggungan

Flyer Kenangan (Dok. Pribadi kiriman Panitia)

PGRI Cabang Ketanggungan Kabupaten Brebes kembali menggelar acara keren. Acara Workshop dan Lomba Menulis diselenggarakan secara daring melalui aplikasi G-Meet.

Hal yang membahagiakan adalah, saya diminta sang Ketua PGRI Cabang untuk mengisi acara tersebut. Setelah melakukan diskusi via WA, akhirnya kami sepakat untuk melaksanakan Workshop Menulis secara daring pada hari Senin, 13 November 2023.

Saya pun meminta kepada Ketua PGRI Cabang Ketanggungan untuk membuat surat permohonan dispensasi kepada kepala sekolah untuk menjadi narabagi materi sekaligus menjadi juri lomba menulis sebagai rangkaian kegiatan Workshop.

Menjadi pembicara pada sebuah webinar di luar kota melalui aplikasi pertemuan virtual Google Meet menjadi pengalaman yang mendebarkan sekaligus membahagiakan.

Pengalaman mendebarkan karena ini kali pertama berbicara di forum lintas kabupaten, lintas provinsi, pun lintas pulau. Selain itu, kapasitas diri yang jauh dari kata mumpuni (meskipun saya termasuk pengagum dan penggemar Ustazah Mumpuni). Saya harus berbicara di depan para guru yang menganggap saya sebagai penulis yang sudah kawakan. Kalau umur sih iya, ya. Pada bulan Desember saya berusia 52 setengah tahun.

Meskipun diiringi debar hati, namun sebagai anggota RVL (Rumah Virus Literasi) saatnya harus berani menularkan virus listerasi kepada sesama. Ada kewajiban keorganisasian dan kewajiban moral sebagai anggota komunitas penulis asuhan Dr. Much. Khoiri itu.

Oleh karenanya, ketika diminta mengirimkan foto, saya mengirimkan foto dengan outfit yang saya pakai ketika Kopdar Kedua RVL di Yogyakarta, bulan Juni 2023.

Jika saya mengatakan pengalaman menyebar virus literasi ini adalah pengalaman yang membahagiakan, tentu karena saya mendapat kesempatan untuk mengisi sejarah kehidupan kepenulisan saya.

Sebagian besar teman-teman yang saya temui, mengatakan bahwa menulis itu sulit. Mereka, rekan guru yang rata-rata sudah S1, barangkali tidak menyadari bahwa karya tulis sebagai syarat kelulusan sarjananya adalah sebuah tulisan yang dilahirkan.

Teman yang lain mengatakan bingung mau memulai dari mana. Bahkan, ada yang mengeluhkan bahwa ia sudah tua sehingga ia bingung menulis apa dan menulis itu untuk apa.

Oleh karena itu, untuk menjawab pertanyaan sebagian besar teman (mungkin juga para peserta workshop) saya membawakan materi tentang Rahasia Mudah Menulis.

Perjalanan menulis dimulai tahun 2009, ketika umur saya 38 tahun. Belajar secara otodidak membuat blog di blogger dengan domain gratisan (susantogombong.blogspot.com).

Tulisan pertama berjudul Guru SD dan Komputer.Tulisan itu dipublikasikan tanggal 4 Juli 2009.

Tidak ada yang memotivasi, sementara motivasi dari dalam diri sendiri sangat kurang maka blog saya hampir-hampir mangkrak. Istilah Omjay, guru blogger Indonesia mentor menulis saya di Kelas Belajar Menulis Nusantara, adalah menjadi sarang laba-laba.

Tahun 2020, dunia dilanda wabah. Tidak terkecuali Indonesia. Wabah itu, wabah Covid-19. Akibatnya tatap muka pembelajaran ditiadakan, pembelajaran dilakukan dari rumah. Pembelajaran dilakukan secara jarak jauh. Sungguh, disrupsi proses pembelajaran yang luar biasa.

Saya yang belum paham dengan berbagai platform pembelajaran daring akhirnya mengajar menggunakan media sosial.

Hal itu menyebabkan waktu luang di rumah cukup banyak. Sehingga, ketika ada teman yang mengajak ikut kelas menulis, saya mendaftar dan ikut menjadi anggota Belajar Menulis Via WA bersama Omjay dan PGRI Gelombang 15. Gratis, tidak sepeser uang untuk kontribusi. Seikhlasnya? Tidak juga.

Akhirnya blog saya terisi karena ada kewajiban mengisinya dengan konten resume materi pelatihan.

Akhirnya, blog itu pun menjadi media pembelajaran daring untuk anak-anak kelas enam yang saya ampu.

Seiring berjalannya waktu, akibat dorongan dari kelas belajar melalui para narasumber, menumbuhkan motivasi dari dalam diri meningkat. Motivasi untuk belajar menulis bertambah. Akhirnya, pada angkatan 18 saya diikutkan menjadi salah satu narasumber untuk memberikan materi tentang proofreading sebelum menerbitkan tulisan. Materi ini menjadi materi tetap yang harus saya bawakan hingga angkatan 30 sekarang ini (12/2023).

Tidak hanya grup KBMN, tetapi Kelas Menulis melalui WA yang dibuka Cak Inin (Bapak Mukminin) bersama Ibu Noralia, saya pun diajak untuk memberikan materi di kelas beliau. Hingga akhirnya bertemu dan berkenalan dengan teman-teman RVL (Rumah Virus Literasi) di bawah asuhan Suhu Emcho (https://muchkhoiri.com/).

Dampak positif dari itu adalah saya beberapa kali diminta untuk mengedit naskah calon buku antologi maupun buku solo teman-teman literasi di grup WA yang saya ikuti.

Tidak menunggu menjadi ahli, karena itu tidaklah mungkin, saya memberanikan diri bersedia ketika teman saya mengajak untuk memotivasi teman-teman guru di Kabupaten Brebes khususnya Kecamatan Ketanggungan untuk menulis.

Pada akhir sesi, dilakukan tanya jawab dan Panitia membuka lomba menulis dengan 3 kata kunci yang harus masuk ke dalam tulisan. Tga kata kunci itu adalah kelapa, cinta, dan telaga.

Berikut salah satu tulisan yang menjadi pilihan juri sebagai pemenang. Demi alasan teknis, ada beberapa pembenahan di sana-sini.

Hari ini jadwal mengajar Pak Yusuf ada di kelas 7A, tepatnya setelah jam istirahat selesai. Anak-anak mengucapkan salam di depan ruang Lab Komputer, Pak Yusuf menjawab salam mereka. Satu per satu meja komputer terisi, mereka selalu antusias saat pelajaran tersebut. Pertemuan kali ini Pak Yusuf akan memulai misinya, kebetulan sesuai dengan tema pembelajaran tentang “Peran Teknologi Informasi dan Komputer.”

Mulanya Pak Yusuf mengajak anak-anak untuk update informasi terkini. Beragam berita pun terkumpul. Ada berita politik, olahraga, gaya hidup, hingga peristiwa peperangan di Gaza. Mulai dari hal itu, Pak Yusuf mengajak anak-anak merefleksikan tentang peristiwa di Gaza dan memposisikan diri bagaimana jika mereka yang ada di sana. Mayoritas jawaban mengarah kepada rasa empati dan simpati. Satu per satu gagasan muncul dari ide-ide mereka.

Suatu hari Pak Dwi guru Seni Budaya mengajar di kelas 7A. Kebetulan saat beliau masuk, anak-anak masih sibuk dengan aktivitas serah-terima uang kepada bendahara. Pak Dwi merasa kehadirannya tidak dianggap.

“Buat apa mengumpulkan uang seperti itu? Siapa yang menyuruh kalian?” Anak-anak menceritakan awal mula penggalangan dana itu. Hati Pak Dwi terasa panas saat mendengar nama Pak Yusuf disebut-sebut sebagai pemrakarsanya.

“Kalian itu dibodohi dan dibohongi oleh Pak Yusuf, uang itu pasti untuk dirinya sendiri! Masih miskin sok-sok’an donasi segala.” Anak-anak terhenyak. Mereka saling bertatapan.

Satu minggu berlalu. Pak Yusuf telah menjalankan misinya di semua kelas komputer yang diampunya. Beliau ingin mengetuk hati peserta didiknya agar menjadi manusia yang mampu merespon informasi terkini dan yang paling utama dapat menumbuhkan rasa peduli dengan sesama. Selama itu pula Pak Dwi mematahkan bibit-bibit empati yang mulai tumbuh di hati anak-anak, dengan mengembuskan berita tak sedap tentang Pak Yusuf.

Berita tidak menyenangkan itu terdengar oleh ibu Kepala Sekolah. Pak Yusuf dipanggil ke ruangan beliau untuk dimintai klarifikasi. Rupanya masalah itu membuat suasana kantor dan sekolah menjadi kurang kondusif. Pro dan kontra terhadap peristiwa itu tak bisa dihindari. Oleh karenanya, Pak Yusuf mendapat sanksi berupa Surat Peringatan. Ini pertama kalinya Pak Yusuf merasakan kesedihan mendalam. Di bulan perayaan para guru, justru hukuman yang ia dapat.

Tanggal 25 November pun tiba. Usai pelaksanaan upacara peringatan Hari Guru Nasional (HGN), siswa-siswi gegap gempita merayakannya. Ruang kelas ramai dengan sambutan dan kejutan untuk para wali kelas. Kebahagiaan terpancar di lingkungan sekolah. Namun, tidak dengan Pak Yusuf yang menyendiri di ruang Laboratorium Komputernya. Ia merenung sendirian.

Terdengar suara ketukan pintu dan ucapan salam di depan ruang Lab. Komputer. Pak Yusuf pun tersadar dari lamunannya. Ia menjawab salam dan berjalan untuk membuka pintu itu. Tampak beberapa anak berdiri di depan pintu sambil membawa kue bolu, segelas es kelapa, dan beberapa buket uang bertuliskan “Donasi untuk Palestina”.

“Selamat Hari Guru Pak Yusuf, kami percaya Bapak orang yang sangat baik dan peduli dengan sesama. Ini uang donasi yang selama ini diam-diam telah kami kumpulkan. Semoga tali kasih dan cinta dari kami dapat berarti bagi saudara-saudara di Palestina sana,” ucap sang ketua OSIS.

Pak Yusuf tidak dapat menahan air matanya. Rasa haru menyeruak memenuhi hatinya. Telaga yang mengering rupanya telah memancarkan sumber air penuh cinta.

Hasil Lomba Menulis pada acara Workshop Menulis PGRI PC Ketanggungan

Musi Rawas, 5 Desember 2023
Blogger Guru Musi Rawas
PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

4 thoughts on “Berbagi Virus Literasi Bersama PGRI Cabang Ketanggungan

  • Mantap, nih….
    Terus berbagi dengan berliterasi.
    Semangat…..

  • Pengalaman yg mengesankan sbg Narsum. Lanjut Pak DSus

  • Pengalaman yg berkesan sbg narsum baik perdana maupun lanjutan. Lanjut Pak DSus. Selamat

  • Tulisan yang bagus Dan bernutrisi

Comments are closed.