Galau Hati Aulia: Beli Tiket atau Paket

Namaku Aulia. Teman-teman memanggilku Aya. Hari Selasa kemarin, kami menonton pertunjukan film 3 dimensi di kelas. Sebelumnya, Pak Eko dan Kak Alfi menjelaskan di kelas kami. Untuk menonton film itu, kami membayar tiket sebesar lima belas ribu rupiah.
Kata Pak Eko, tidak ada paksaan untuk menonton. Tapi, kalau ingin mendapatkan pengetahuan baru tentang film tiga dimensi silakan komunikasikan dengan orang tua. Begitu penjelasan Pak Eko, guru kelas kami.
Alhamdulillah, orang tuaku mempunyai uang untuk membayar harga tiketnya dan aku akan menyetorkan uangnya pada hari pertunjukan.
“Aya, kita nggak usah nonton, yuk!” Sintia mengajakku untuk tidak menonton.
“Kenapa, Sin?” tanyaku.
“Duit tiket kita belikan paket data saja,” jawab Sintia.
“Sip! Aya, paket data hapemu kan habis,” timpal si Nindy.
“Iya, tapi … kita kan minta uang buat nonton film pendidikan, bukan untuk beli paket,” kataku.
“Eh, kan Pak Eko juga bilang, kalau tidak nonton juga nggak apa-apa?” kata Nindy lagi.
“Hmm … nanti aku pikir lagi,” kataku.
Hari Senin kami tidak sekolah. Seluruh guru mengikuti upacara Hari Guru Nasional di kabupaten. Sebagai gantinya, kami belajar berkelompok di rumah, mengerjakan tugas membaca dan menulis dari guru.
Malam harinya, aku gelisah. Besok pagi jadwal pemutaran film 3 dimensi, jenis film yang belum aku kenal sama sekali. Keinginan untuk menonton dan mengikuti ajakan Sintia membeli paket data membuatku bimbang.
“Mbak, pinjam hape dong. Aku mau WA Pak Eko,” kataku kepada Mbak Ida, kakak perempuanku.
Kakakku memberikan hapenya dan mulailah aku mengirim pesan kepada Pak Eko.
[Assalamualaikum, Pak. Maaf mengganggu. Aya mau tanya, kalau tidak menonton, boleh tidak, Pak?]
Lima menit kemudian ada jawaban dari Pak Eko.
[Tidak ada paksaan. Jika tidak memiliki uang, ya, nggak nonton tidak apa-apa]
Aku pun membalas.
[bukan, pak. kawan-kawan meminta uang tetapi uangnya tidak untuk nonton. Gimana, pak, boleh tidak?]
[Lo, memang untuk apa?] Pak Eko membalas.
[itu, pak untuk membeli paket data. paket kami habis. Nanti tidak bisa menonton youtube kiriman Bapak] Aku berkilah.
[Itu namanya menipu apa bukan? kalau minta uang untuk membayar menonton film edukasi lalu dipakai untuk membeli paket dan kamu tidak menonton, berarti kamu membohongi orang tua apa tidak?]
[bohong, pak] Tulisku di kolom percakapan.
[Nah, kalau begitu, bawa uangnya besok.]
[ya, pak] Jawabku mengakhiri percakapan.
Aku malu percakapanku ketahuan Mbak, percakapan dengan Pak Eko aku hapus.
Lalu, aku ceritakan percakapanku dengan guruku itu kepada Sintia, Nindy, dan lainnya. Akhirnya, kami tidak jadi membeli paket dan tetap akan menonton.
Keesokan hari kami membuat kejutan. Kain gorden jendela kelas kami tutup, pintu masuk pun kami tutup. Ketika Pak Eko mengucapkan salam dan masuk ke kelas, Ines memecahkan balon yang sebelumnya sudah kami isi dengan guntingan kertas kecil-kecil warna-warni.
“Dor!” bunyi balon dipecahkan Ines.
“Selamat Hari Guru, Pak!” teriak kami serempak. Lalu, kami melanjutkan dengan menyanyikan lagu Hymne Guru.
Terpujilah, wahai engkau
Ibu Bapak Guru
Namamu akan selalu hidup
dalam sanubariku
Semua baktimu, akan kuukir
di dalam hatiku
s’bagai prasasti terima kasihku
‘tuk pengabdianmu
Engkau sebagai pelita
dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk
dalam kehausan
Engkau patriot, pahlawan bangsa
Pembangun insan cendekia.
Selesai menyanyi, kami bertepuk tangan dan bergantian menyalami Pak Eko.
Ines menyerahkan buket dan Rizal memberi kue tart mungil.
Mata Pak Eko berkaca-kaca. Ia pun mengucapkan terima kasih atas ucapan dan pemberian bingkisan sederhana dari kami.
Tidak lama kemudian, kru pemutaran film datang, kami menunggu mereka menyiapkan ruangan gelap di kelas kami. Setelah siap aku dan teman-teman menonton. Tidak lupa uang tiket kami berikan kepada Pak Eko. Nindy, Sintia, dan lainnya pun ikut menonton. Kami tidak jadi membeli paket dengan uang tiket.
Musi Rawas, 1 Desember 2023
Blognya sudah keren. Josss