artikel

Berpantun dengan Baik dan Benar, Resensi Buku Nusantara Berpantun Karya Cak Inin

Beberapa waktu lalu, saya mendapat hadiah dari Omjay (Dr. Wijaya Kusumah). Hadiah itu diberikan Omjay setelah saya menulis artikel berjudul “Kelas Menulis yang Unik nan Apik” sebagai artikel yang saya ikutkan dalam lomba blog yang ia selenggarakan memperingati ulang tahun ke-24 perkawinannya dengan Tante Siti Rokayah.

https://blogsusanto.com/kelas-menulis-yang-unik-nan-apik/

Hadiah yang Omjay berikan itu berupa belasan buku dari berbagai penulis. Di antaranya adalah buku berjudul “Nusantara Berpantun, Antologi 65 Pantun Nasihat”.

Identitas dan Sinopsis Buku “Nusantara Berpantun, Antologi 65 Pantun Nasihat”

Buku “Nusantara Berpantun, Antologi 65 Pantun Nasihat” anggitan Cak Inin Mukminin sesuai dengan judulnya adalah kumpulan pantun nasihat. Ada 65 buah pantun nasihat karangan penulis yang tersebar sebanyak 65 halaman atau 33 lembar kertas berukuran 14,5 cm x 20,5 cm.

Sebagaimana tercantum pada halaman sampul, buku yang didominasi oleh warna hijau daun itu, ada bonus teori pantun.

Halaman sampul buku karya Cak Inin (Dok. Pribadi)

Berikut identitas buku yang dapat saya catat.

Judul buku: Nusantara Berpantun, Antologi 65 Pantun Nasihat
Pengarang: Cak Inin Mukminin
Penerbit: CV. Kamila Press lamongan
Editor: Mukminin, M.Pd.
Desain Sampul dan Isi: Embun Media
Tahun terbit beserta cetakannya: 2022, Cetakan Pertama
Tebal buku: xii dan 84 halaman
Harga buku: 40.000 (menurut informasi dari Grup WA)

Sinopsis: Buku berisi teori pantun setebal 12 halaman dan isi buku berupa 65 pantun nasihat yang tersebar pada 65 halaman.

Resensi Buku “Nusantara Berpantun, Antologi 65 Pantun Nasihat”

“Pantun adalah warisan budaya bangsa Indonesian yang sangat luhur yang diajarkan secara turun-temurun. Pantun merupakan salah satu bentuk karya sastra puisi lama yang terikat dengan aturan. Awalnya, pantun adalah sastra lisan, yang berkembang di masyarakat tempo dulu dengan cara berbalas pantun. Mereka mengucapkan pantun langsung secara lisan tanpa berpikir panjang.”

Bab I Buku Nusantara Berpantun (Dok. Pribadi)

Demikian paragraf pembuka pada halaman satu. Selanjutnya diuraikan berbagai teori tentang pantun. Barangkali bagian ini yang dikatakan oleh penulisnya pada halaman sampul buku sebagai “bonus teori pantun”. Teori pantun tercantum pada Bab I dengan tajuk Pengantar Pantun sedangkan Bab II berisi 65 Pantun Nasihat.

Pantun, karya sastra lama berbentuk puisi terdiri dari empat bait, saat ini populer. Sejak program Merdeka Belajar diluncurkan Mas Menteri Nadiem Makarim, khususnya Pendidikan Guru Penggerak, para petinggi Kemendikbud mengawali atau mengakiri paparannya dengan pantun. Beberapa acara televisi dan juga acara-acara off-air sering menyisipkan pantun di dalamnya. Pun pada obrolan di GWA (Grup WA), tidak jarang para anggota bercakap-cakap dengan melontarkan pantun di dalamnya.

Bagaimana membuat pantun? Dengan kaidah dasar seperti, satu bait terdiri dari empat baris. Setiap baris terdiri dari 8 hingga 12 suku kata. Rima akhir setiap baris berpola a-b-a-b. Baris pertama dan kedua merupakan sampiran, sedangkan baris ketiga keempat merupakan isi pantun. Hampir setiap orang bisa membuat pantun. Namun demikian, apakah pantun yang dibuat sesuai dengan kaidah dan syarat-syarat sesuai pendapat para ahli?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Cak Inin memaparkan beberapa teori pantun dan diberinya judul Pangantar Pantun. Isinya: 1) Pengantar Pantun, 2) Peranan dan Fungsi Pantun, 3) Struktur Pantun, 4) Ciri-ciri atau Syarat-syarat Pantun Menurut Para Ahli, 5) Jenis-jenis Pantun, 6) Ciri-ciri Pantun, 7) Cara Membuat Pantun. Uraian tersebut, meskipun merupakan Bab Pertama bukunya, Cak Inin menyebutnya sebagai bonus dari buku kumpulan pantun tersebut.

Kelebihan Buku “Nusantara Berpantun, Antologi 65 Pantun Nasihat”

Pantun adalah warisan luhur bangsa. Sastra lisan masyarakat Melayu (Indonesia) ini tidak boleh punah. Oleh karena itu, berbagai upaya dilakukan untuk melestarikan puisi lama yang menarik ini. Selain menyelenggarakan lomba Berbalas Pantun, membukukan pantun adalah upaya postif dalam melestarikan pantun. Oleh karena itu, hadirnya buku “Nusantara Berpantun, Antologi 65 Pantun Nasihat” ini memberi harapan optimis upaya pelestarian pantun dan menambah bahan literasi dalam berpantun.

Meskipun pantun memiliki beragam jenis, Cak Inin memilih pantun nasihat untuk diabadikan. Pantun yang ada dalam buku ini memberikan nasihat kepada para pembaca tentang perlunya optimis, menghindarkan diri dari sifat-sifat yang tidak baik, gemar beribadah (dalam buku ini lebih banyak dicontohkan ritual agama Islam), dan juga nasihat yang baik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai pegiat literasi dan penulis belasan buku antologi dan juga buku solo tidak lupa menyelipkan pesan untuk menulis.

Menjual kayu di pasar Belangit
Karena hari Kamis hari pasarannya
Walau ilmu setinggi langit
Tidak ditulis apa gunanya

(halaman 34)

Kekurangan Buku “Nusantara Berpantun, Antologi 65 Pantun Nasihat”

Saratnya kelebihan tidak serta merta-merta menutup adanya beberapa hal yang menurut saya perlu diperbaiki pada penerbitan berikutnya.

Kesalahan pengetikan, bahasa gaulnya saltik atau typo masih perlu diperhatikan. Kata Indonesia, diketik Indonesian (h. 1), kata “pantun” ditulis dengan huruf kapital sesudah tanda koma (h. 2), mestinya tidak perlu terjadi. Apalagi terletak pada halaman permulaan buku. Demikian juga kata ulang “syarat-syarat” (h. 3) yang diketik dengan huruf kapital semua pada setiap kata.

Pada bagian isi utama buku, yakni pantun, terdapat beberapa kesalahan penulisan kata:

  1. keabikan (h. 14).
  2. Peliharaalah (h. 21)
  3. Tuhan Murka (h. 21)
  4. Binatang Gorela (h. 23)
  5. diperjual belikan (h. 25)
  6. Suasan damai (h. 27)
  7. Pastikan 7 kali (h. 32)
  8. Tetap Lebih (h. 35)
  9. dipinggir (h. 48)
  10. Karena ucapkan (h. 73)

Pantun 37 pada halaman 50 dan Pantun 48 pada halaman 61 hakikatnya sama. Mari kita lihat!

Pantun 37
Mengambil kayu dalam peti
Peti dibuka kayu berserakan
Mencari ilmu setengah hati
Hasilnya tidak akan memuaskan

Pantun 48
Mengambil kayu dalam peti
Peti dibuka kayu berserakan
Cari ilmu jangan setengah hati
Hasilnya tidak akan memuaskan

Kedua pantun sampirannya sama, isinya pun sama. Perbedaan hanya pada baris ketiga. Berbeda redaksi tetapi maknanya sama.

Demikian pula nasihat pada Pantun 21 (halaman 34) dan Pantun 49 (halaman 62). Mari kita simak!

Pantun 21
Menjual kayu di pasar Belangit
Karena hari Kamis hari pasarannya
Walau ilmu setinggi langit
Tidak ditulis apa gunanya

Pantun 49
Tanaman tembakau di atas bukit
Gadis-gadis ikut menanamnya
Walau ilmu setinggi langit
Tidak ditulis apa gunanya

Bagaimana dengan kaidah pantun yang sudah diuraikan penulis pada Bab Pertama? Pada uraian tentang ciri-ciri atau syarat-syarat pantun, dijelaskan bahwa banyak suku kata setiap baris adalah 8 hingga 12 suku kata. Mari perhatikan baris pantun pada pantun berikut.

Pantun 19
Jika Anda sedang bertawaf
Pastikan 7 kali putarannya
Maafkan kesalahan saudara yang belum minta maaf (17 suku kata)
Itulah perbuatan yang mulia

Pantun 40
Semak belukar banyak ularnya
Pohon jati kokoh bertahan
Bukan gelar dan jabatan menjadi mulia (14 suku kata)
Kualitas diri jadi taruhan

Pantun 63
Kalau kita beli gergaji
Habis dipakai jangan lupa disimpan
Kalau Anda umroh dan haji
Dosa diampuni, doa, dan biaya Allah gantikan (17 suku kata)

Bagimana dengan kaidah rima akhir pantun? Rima menurut KBBI adalah  pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam larik sajak maupun pada akhir larik sajak yang berdekatan (https://kbbi.web.id/rima). Mari perhatikan pantun berikut.

Pantun 27
Si Bocil suka berdendang (-ang)
Ada tujuh kali dilemparkan (-an)
Sejak kecil suka berdagang (-ang)
Pintu rizki dibuka disana (-na)

Pantun 30
Ikan kakap dalam kartun (-un)
Jadi hiburan setiap pagi (-gi)
Jaga sikap dan bicara santun (-un)
Dalam pergaulan kita sehari-hari (-ri)

Tampaknya harus dibedakan antara rima dengan fonem. Semoga hal ini menjadi perhatian penulis.

Penutup

Cak Inin Mukminin, sebagai penulis, telah berupaya melestarikan pantun. Beliau sudah memberikan puluhan nasihat yang dikemas dalam pantun. Melalui “buku hijau” Nusantara Berpantun, Antologi 65 Pantun Nasihat, Cak Inin telah berpantun sekaligus memberikan nasihat yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Adanya beberapa kekurangan terutama berkaitan dengan kesalahan pengetikan yang tidak perlu barangkali disebabkan oleh penulis dan editor (penyunting naskah) buku adalah orang yang sama. Bukankah kita masih ingat peribahasa “Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak”? Demikian pula penonton sepak bola piala dunia (ketika tulisan ini diterbitkan sedang berlangsung Piala Dunia Qatar 2022). Penonton seakan tahu ke mana seharusnya bola berlari, sedangkan sang pemain harus berpikir keras menendang ke arah yang benar. Andai saja naskah diberikan kepada orang lain untuk disunting, kesalahan-kesalahan dapat diminimalkan.

Apabila beberapa hal yang saya uraikan pada bagian kekurangan di atas dapat diperbaiki. Sampiran dan isi pantun dibuat lebih menarik sebagaimana petunjuk yang Cak Inin paparkan pada “bonus” buku tersebut. Buku ini dapat direkomendasikan sebagai bacaan tambahan di sekolah bagi para siswa mulai usia remaja. Usia murid-murid Cak Inin, murid SMP ke atas.

Musi Rawas, 11 Desember 2022
PakDSus



Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

22 thoughts on “Berpantun dengan Baik dan Benar, Resensi Buku Nusantara Berpantun Karya Cak Inin

  • Perasaan Ibu saja, he he. Saya tidak pernah men-delete komentar, kecuali konten yang melanggar susila atau menyerang pribadi seseorang. Salam manis dan terima kasih.

  • Resensi luar biasa.
    Bu lik atun beli duku.
    Suka pantun harus beli buku

  • Resensi yg lengkap Pak D… Begitu teliti mengurai tiap isinya..
    Terimkasih.

  • Siang hari segarnya minum es degan
    Dibelinya di jalan Pantura
    Sungguh hati jadi deg-degan
    Saat karya diperiksa polisi bahasa

    Hehehe

  • Resensinya bagus. Hanya terlalu panjang. Mohonnmaaf. Mungkin lebih cocok untuk artikel sebagaimana yang dilakukan oleh kritikus sastra.

  • Cak Inin, sang Penulis. Bersyukur sekali dikomentari oleh sang penulis buku. Terima kasih, Cak Inin.

  • Orang lain biasanya lebih teliti memeriksa tulisan kita. Terima kasih kunjungannya, Ibu.

  • Terima kaih, Ibu sudah berkenan berkunjung.

  • Terima kasih, Suhu Emcho. Kunjungan Anda menyemangati saya.

  • Terima kasih kembali, Ibu. Terima kasih sudah mampir.

  • Salam kembali, Cak Har. Terima kasih sudah berkunjung.

  • Buku di tangan Pak D jadi terburai….(terurai) sampai huruf- hurufnya. MANTAP pak D. Salam

  • Ulasan yang detail dan imbang, ada kelebihan dan kekurangan. Terima kasih ilmunya.

  • Tinjauan buku yang bergizi, Pakde. Semoga terus menginspirasi teman2

  • Terima kasih sudah diajak berpantun

    Resensinya saya suka.
    Belajar dari mengulas buku itu menambah wawasan.

  • Resensi yang bagus. Benar juga sebaliknya perlu editing orang lain. Terima kasih pencerahannya Pak De Sus

  • Terima kasih Pak D. Resensi bagus
    Saran saya terima

Comments are closed.