artikel

Cahayu Eka Putri (5): Ketika Facebook Mengingatkan Kenangan 1 Tahun Lalu

blogsusanto.com – Neng Ayu, cucu Eyang yang cantik. Hari ini FB (Facebook) memberitahukan kenangan yang terjadi setahun lalu pada tanggal yang sama. Ada foto di bawah ini.

Ngunduh Mantu, Resepsi Pernikahan Bagus Aji Santoso (Dok. Susanto)

Tampak pada gambar Pak Suyamto beserta istri dan Hj. Yanti beserta suami. Mereka teman-teman hebat Eyang. Pada hari yang membahagiakan itu, mereka berkenan hadir secara fisik di pesta pernikahan ayah bundamu. Ayah Bagus dan Ibu Asha.

Selain foto itu, muncul juga foto-foto berikut ini.

Cik Gu Vera dan kawan-kawan (Dok. FB@CikGuVeHerawan)

Sungguh, hari itu hari yang membahagiakan. Banyak teman Eyang berdua yang hadir, meskipun banyak pula yang komplain karena merasa tidak diundang baik langsung maupun tidak langsung. Undangan kertas, punjungan, atau pesan WA.

Untuk yang terakhir, selain di grup, secara perorangan Eyang belum berani mengundang menggunakan pesan WA. Hati nurani belum bisa menerima. Sebagai orang angkatan ‘lama’ mengundang melalui WA terasa tidak sopan.

Tetapi, jujur saja, bukan tidak ada dalam catatan, melainkan karena tidak sempat mengundang secara langsung. Sementara, lagi-lagi alasan tidak enak hati, tidak berani mengundang dengan jarak waktu yang tinggal hitungan hari.

“Kok, begitu?” Barangkali engkau terheran dan bertanya.

Tanggal 15 Januari 2023, pulang dari pergelaran wayang kulit memperingati HUT Ke-2 Paguyuban Republik Ngapak, Eyang mendapati Eyang putrimu sakit di peraduan. Sesudah subuh, meminjam mobil tetangga, kami antar Eyangmu ke Klinik Citra. Akhirnya, berbekal rujukan dari klinik swasta itu, kami menuju ke RSA (Rumah Sakit Siti Aisyah) Lubuklinggau. Kami harus menginap agar Eyang Putrimu dirawat lebih intensif.

Saat itu, kami baru mengundang tetangga kiri kanan untuk membantu hajatan kita. Baru dapat sepuluh orang. Tetangga lainnya belum bisa kami temui secara langsung. Apabila tidak ditemui secara langsung, tetangga tentu sungkan untuk datang membantu. Begitulah adat yang berlaku.

Karena sakit, apa boleh buat. Kami tidak bisa meneruskan berkeliling ke kampung untuk mengundang sekaligus meminta bantuan handai tolan dalam hajatan kita.

Hari kelima di rumah sakit kami pulang. Eyang Putrimu masih lemah dan dalam masa penyembuhan. Hingga akhir bulan, beliau beristirahat. Praktis, kami belum bisa melanjutkan mengundang tetangga dan handai tolan, ‘kan?

Kami ingin membatalkan niat hajatan ngunduh mantu, membatalkan pesta pernikahan ayah bundamu, Neng! Akan tetapi, para tetangga, terutama ibu-ibu menguatkan niat kami.

Pokoknyo laju, Bu. Pacakla kami mbantu,” kata ibu-ibu tetangga.

Artinya kurang lebih, pokoknya lanjutkan, bisalah kami membantu (menyukseskannya).

Akhirnya hingga menjelang lima hari hajatan, saat ibu-ibu mulai menampi beras dan menggoreng-goreng sesuatu, kami melanjutkan mengundang tetangga kiri kanan di Kampung 2, tempat kami tinggal.

Sebab itulah, ada puluhan teman dan sahabat Eyang yang tidak sempat menerima undangan. Lucunya, kami sungkan mengundang melalui WA, dua bulan kemudian, bermunculan undangan melalui pesan digital aplikasi android itu. Yah, apa boleh buat.

Secara resmi, resepsi diadakan pada tanggal 18 Februari 2023 , hari Sabtu. Akan tetapi, Paguyuban Republik Ngapak berniat datang pada hari Jumat. Maka, pada hari Jumat kami bergembira ria bersama teman-teman paguyuban. Beberapa tokoh paguyuban membuat karangan bunga ucapan selamat. Karangan bunga itu menambah semarak jalan masuk ke tempat kita.Karangan bunga itu menjadi latar belakang foto Cik Gu Ve, Bu Puput, dan teman-teman lain.

Beberapa hari sebelumnya, rombongan Kakek, nenek, dan buyutmu dari Sukabumi datang. Mereka menjadi saksi kemeriahan suasana pesta satu hari sebelum hari H.

Setelah hari Jumat diisi acara dengan Paguyuban, keesokan harinya, kami menggelar resepsi. Sambil menunggu tamu undangan dan acara resmi dimulai, grup keroncong Gita Laras, grup keroncong yang Eyang ikuti menghibur tamu undangan hingga acara paripurna satu jam sebelum maghrib.

Nah, Cahayu, itulah cerita yang terjadi tepat satu tahun lalu, ketika ayah dan ibumu baru satu setengah bulan mengarungi bahtera rumah tangga. Facebook mengingatkan. Andai tidak diingatkan FB di lini masa, mungkin Eyang tidak bercerita tentang hal ini kepadamu.

Eyang merasa perlu menggelar acara itu agar keluarga dari Sukabumi tahu kediaman kami. Alasan berikutnya, agar para tetangga mengetahui orang yang menjadi istri anak Eyang. Terakhir, tentu berbagi kebahagiaan dengan kolega dan para tetangga.

Hari ini, Eyang melihat kalian sudah bisa berkomunikasi. Meskipun usiamu baru dua setengah bulan, tampaknya tatapan mata yang beradu dengan tatapan mata ayahmu mengisyaratkan bahwa kalian sudah bisa berkomunikasi satu sama lain.

Tetap sehat, Neng Ayu, cucuku.

Neng Ayu dan Ayah Bagus (Dok. Susanto)

Musi Rawas, 18 Februari 2024
PakDSus
Kakek seorang cucu perempuan

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.