artikel

Sudah Nonton Film Dirty Vote, Apa yang Anda Dapatkan?

Menjelang Pemilu, film Dirty Vote arahan sutradara Dandy Laksono diputar. Sehari menjelang hari pencoblosan, ketika tulisan ini dipublikasikan, film yang ditonton melalui link https://www.youtube.com/watch?v=RRgLZ66NCmE sudah mencapai 7.798.235 kali ditonton.

Film Dirty Vote full movie yang tayang di kanal YouTube Dirty Vote trending pada berbagai platform media sosial. Film yang diklaim sebagai film dokumenter ioni dibintangi oleh tiga ahli hukum tata negara. Mereka adalah Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari.

Film Dirty Vote adalah karya sutradara Dandhy Laksono. Melansir tulisan Balqis Fallahnda yang dimuat di tirto.id, Dandy bekerjasama dengan sutradara fotografi, Jagad Raya, videographer Yusuf Priambodo dan Benaya Harobu, produser Irvan dan Joni Aswira. Dandy pun menggandeng lima orang peneliti: Helmi Lavour, Kafin Muhammad, Nurdinah Hijrah, Rino Irlandi, dan Joni Aswira.

Durasi film Dirty Vote mendekati dua jam pertama kali diunggah melalui kanal YouTube resmi Dirty Vote. Selanjutnya, Dirty Vote fim lengkapnya pun diunggah oleh beberapa kanal YouTube lainnya.

Film dokumenter eksplanatori ini, sinopsisnya langsung disampaikan oleh tiga ahli hukum tata negara: Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari. Film ini mengungkap berbagai instrumen kekuasaan yang digunakan untuk tujuan memenangkan pemilu bahkan merusak tatanan demokrasi.

Kecurangan Pemilu diurai secara analitis oleh para ahli hukum tata negara tersebut. Selain itu, Dirty Vote pun mengkritisi penggunaan infrastruktur kekuasaan yang tanpa malu-malu dipertontonkan secara telanjang di depan publik. Pamrihnya adalah mempertahankan status quo.

Mengutip pesan Zainal Arifin Mochtar kepada penonton pada awal film: “Jika anda nonton film ini saya punya pesan sederhana satu tolong jadikan film ini sebagai landasan untuk anda melakukan penghukuman.”

Zainal mengatakan bahwa film itu sebagai momentum dan tagihan bahwa masyarakat Indonesia memiliki peranan besar melahirkan Joko Widodo.

Sementara Bivitri Susanti mengatakan, “Saya mau terlibat dalam film ini karena banyak orang yang akan makin paham bahwa memang telah terjadi kecurangan yang luar biasa sehingga Pemilu ini tidak bisa dianggap baik-baik saja.”

Jika Anda menonton film Dirty Vote, Anda akan diperlihatkan gambaran tentang para politisi yang mempermainkan rakyat demi kepentingan pribadi, termasuk aksi kecurangan yang nyata dan terlihat publik. Ironinya, tidak pernah ditindak.

Penyalahgunaan kekuasaan dikatakan sebagai merusak tatanan demokrasi. Data-data kecurangan Pemilu 2024 itu disajikan narasinya oleh ketiga narasumber. Menurut Bivitri, film ini menjadi momen catatan sejarah tentang rusaknya demokrasi di Indonesia.

Film Dirty Vote menuai pujian sebagai reaksi positif dan kritikan kritikan pedas.

Akun X (twiter) Islah Bahrawi Official/@islah_bahrawi, dengan memberikan tagar #DirtyVote menulis:
Penjahat dimana-mana pasti ada. Tapi penjahat yg mempersiapkan aksi kejahatannya secara matang sejak jauh hari, jarang sekali. Hanya penjahat yg sangat jahat yg mampu melakukannya. Wajar jika hukuman Kejahatan Berencana harus berlipat ganda.

Briyan wew @B_wew10, menulis:
kalo demokrasi Indonesia gk berjalan baik, lu pada yg bikin film tersebut udah pada ilang bro #DirtiVote

Anda sendiri, jika menonton film itu, akan berkomentar apa?

Musi Rawas, malam pencoblosan 13 Februari 2024
PakDSus

Sumber: Melintas.id

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.