artikel

Jangan Cuma Ngomong, Menulis Dong!

Buku “Jangan Cuma Ngomong, Menulis Dong!” di antara buku-buku hadiah dari Omjay

Rabu, 13 April 2022. Kurir PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) mengantarkan sebuah paket. Paket yang cukup berat itu ternyata berisi beberapa buku. Pada kolom alamat pengirim tertulis nama Bapak Wijaya Kusumah, Bekasi. Tidak salah lagi, nama ini pasti Omjay, Guru Blogger Indonesia. Beberapa waktu lalu, beliau memilih tulisan saya “Kelas Menulis yang Unik nan Apik” menjadi juara lomba blog yang beliau selenggarakan. Lomba itu dalam rangka memperingati usia perkawinannya yang ke-24 tahun.

Buku-buku dalam bungkusan paket ini adalah hadiah yang beliau berikan. Sebelumnya saya juga diberi hadiah buku oleh Cak Inin. Bos Kamila Press Lamongan ini memberi buku hasil karyanya berjudul “Nusantara Berpantun, Antologi 65 Pantun Nasihat” dan “Laron, Kumpulan Puisi 2.0”.

Buku-buku kiriman Bapak Wijaya “Omjay” Kusumah cukup banyak. Namun, satu di antara buku-buku yang kebanyakan adalah antologi terbitan Oase Pustaka (jadi ingat Bu Kanjeng Sri Sugiastuti) adalah buku berjudul Jangan Cuma Ngomong, Menulis Dong! Buku ini yang pertama kali saya buka. Saya tertarik dengan buku berukuran 17 x 24 cm berwarna putih ini.

Penulis: Zaenuddin HM
Penerbit: Campustaka
Cetakan: 2019
ISBN: 978-602-53672-0-5
Tebal: 140 halaman (17 x 24 cm)
Peresensi: Susanto

Buku karangan Zaenuddin HM dengan keterangan kecil pada halaman sampul depan bagian bawah, Panduan Provokatif Penulis: Puisi, Cerpen, Cerbung, dan seterusnya cukup menantang untuk dibaca. Belum lagi blurb pada halaman sampul belakang.

Orang yang pintar ngomong tapi tidak pandai menulis, biasa. Orang yang pintar ngomong dan pandai menulis, tidak biasa. Orang yang pintar ngomong dan orang yang tidak pintar ngomong tetapi sama-sama pandai menulis, sungguh luar biasa! Apakah Anda termasuk golongan yang ketiga itu? Jika ya, beruntunglah.

Saya merasa terprovokasi, baik oleh si penulis maupun si pengirim buku bagus ini. Buku setebal 132 halaman dan empat halaman Romawi itu sungguh menggelitik untuk dibaca, dipelajari, dan dipraktikkan. Terima kasih, Omjay! Provokasi menulis melalui buku yang provokatif anggitan Zaenuddin HM saya terima dengan suka cita.

Apa Saja Isi Buku Panduan Provokatif Ini?

Buku bergambar sang penulis ini diawali dengan pengantar dari penulis yang menceritakan bahwa buku yang saya baca itu awalnya berjudul “How to be a Writer” yang terbit tahun 2004. Setelah hampir dua dasa warsa, penulis menerbitkannya kembali dengan menambah materi yang lebih relevan dan ternyata memang dikhususkan bagipelajar dan mahasiswa, umumnya siapa saja yang tertarik menjadi penulis. 

Selanjutnya, dalam prakatanya, penulis menjelaskan bahwa buku dengan ISBN 978-602-53672-0-5 itu tidak berisi teori menulis, tetapi memancing dan mendorong minat pembaca untuk menjadi penulis. 

Ada dua bagian yaitu, bagian A dan bagian B. Bagian A berisi tentang proses kreatif seorang penulis, sedangkan bagian B berisi rincian dan penjelasan tentang jenis-jenis tulisan atau jarangan yang bisa dipilih pembaca untuk ditekuni.

Bagaimana Proses Kreatif Seorang Penulis?

Proses kreatif menulis diawali dengan munculnya ide. Setiap penulis, memiliki pengalaman yang berbeda-beda dalam menemukan ide. Ide menulis didapat dari melakukan sesuatu. Berjalan, berwisata, dan tentu saja membaca. 

Ide yang terkumpul ada baiknya segera dicatat. Jika sebelumnya kita mencatat pada secarik kertas, sekarang bisa memanfaatkan gawai. Menginstal aplikasi catatan sangat membantu menyimpan ide yang bakal dituangkan ke dalam tulisan. 

Selanjutnya mulailah menulis dengan perasaan, artinya menuliskan apa yang dirasakan dan dialami. Penulis percaya bahwa itulah cara paling mudah yang dapat dilakukan. Saya teringat pesan guru blogger, Omjay, menulislah apa yang disukai dan dikuasai. 

Setelah memulai menulis dengan perasaan, lanjutkan menulis hingga ide di kepala habis. Jangan melakukan proses pengeditan sambil menulis. Banyak para penulis yang memberi nasihat seperti ini, tidak terkecuali penulis buku “Jangan Cuma Ngomong, Menulis Dong!”

Selanjutnya, penulis dengan bahasa yang mudah dipahami memaparkan tentang perlunya terus berlatih menulis agar mahir, harus ada perasaan lapar menulis, waktu menulis yang tepat, penulis adalah pecinta bahasa, jangan pernah menggunakan bahasa alay, dan boring total (BT) kadang baik untuk menulis.

Pada bagian lain, Bung Zaenuddin HM berpesan agar tetap menjaga dan memelihara ‘mood’ kepenulisan, meyakinkan pembaca bahwa naskah adalah investasi bagi penulis, mengingatkan pembaca agar tidak menjadi plagiat karena tidak ada kata maaf untuk seorang penjiplak. Selanjutnya, memanfaatkan media sosial untuk menuliskan catatan-catatan atau mengabarkan tentang karya yang sudah dilahirkan. Terakhir, pada bagian pertama buku yang sangat cocok untuk penulis pemula ini adalah memublikasikan karya jika ingin diakui sebagai penulis. Huh, cukup provokatif, bukan?

Fiksi atau Nonfiksi?

Bung Zaenuddin HM mengatakan, sebaiknya seseorang tidak dipaksa harus menulis suatu jenis karangan. Biarkan saja orang memilih jenis tulisan tertentu. Oleh sebab itu, pada bagian bawah sampul depan buku “Jangan Cuma Ngomong, Menulis Dong!” itu dituliskan jenis-jenis tulisan yang dapat ditulis. Di antaranya adalah: puisi, cerpen, cerbung, humor, resensi buku, resensi film, resensi lukisan, resensi teater-tari, kritik musik, tata busana, tata griya, kuliner, pidato, makalah, artikel, esai, analisis, teks iklan, lakon drama, skenario film-sinetron, novel, buku fiksi-nonfiksi, dan buku biografi. Setiap jenis disajikan contoh, cara menulisnya, dan sebagian diberikan contoh pengalaman pribadi penulis sebagai motivasi. 

Lengkap sudah buku panduan provokatif penulis dengan judul “Jangan Cuma Ngomong, Menulis Dong!” ini. Buku ini pertama kali diterbitkan tahun 2004, terakhir diterbitkan pada tahun 2019. Namun, sebagai sebuah buku yang berisi banyak petunjuk ‘bagaimana menulis’ menurut saya tidak akan lekang oleh waktu. Buku ini sangat cocok sebagai pendamping orang yang sedang belajar menulis, seperti saya. Ukuran buku yang cukup besar membantu pembaca mencermati ilustrasi yang disajikan.

Salam blogger guru Musi Rawas,

PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

21 thoughts on “Jangan Cuma Ngomong, Menulis Dong!

  • Selalu menarik dan enak membacanya kalau pak D yang menulis…

  • Bagus sekali cara resensinya…jadi ingin dech seperti PakDSus…
    Tq Pak…

  • Gaya menulis resensinya menarik sekali. Tak terasa baca dari awal eh berakhir sampai baris terakhir. Mantab Pak

  • Suhu Emcho, terima kasih kunjungan dan apresiasinya.

  • Iya, Cak. Biar orang penasaran, he he he.

  • R3sensi yang sangat bagus dan bergizi. Bahkan resensi ini juga provokatif. Mantap, PakDe

  • Sri Rejeki Kiki

    Resensi yang bagus…. memprivokasi. Mksh paj

  • Resensi yg bagus menggabarkan isi buku sehingga pembaca ingin membaca dan memiliki buku ini. Kekurangan buku belum Pak D Sus tulis dalam resensi.

  • Buku yang menarik. Sangat memotivasi.
    Terima kasih resensinya, sdh menambah wawasan saya.

  • Hebat pak aku ikut belajar menulis gelombang 22 tapi gak lulus, pak D juga jadi nara sumbernya. Minder aku pak.

  • Sama seperti Pak Padil, hanya Pak Padil tidak sekeras itu ha ha ha ha ….

  • Toko Buku, saya yakin ada. Itu kan hadiah, he he he.

  • saya sedang butuh provokator nih Pak D…
    bukan kesendir tapi ketendang sayanya wkwkwk

  • Blurb yang menarik untuk dikupas isi bukunya, upppsss sebelum dikupas tentunya saya harus memiliki bukunya dulu yaaa…

    Dimanakah saya bisa mendapatkannya?

    Selamat membaca Pak D

Comments are closed.