Kisi-Kisi Besi Kang Marno (Pentigraf)

Kisi-Kisi Besi Kang Marno (Pentigraf)
Oleh: PakDSus
Masjid Taqwim berdiri megah di samping kanal, saluran irigasi yang cukup besar. Orang-orang menyebutnya siring. Siring depan masjid debit airnya cukup deras. Kalau saja ada balita yang kecemplung dijamin bakal hanyut hingga ke ilir. Nah, derasnya air membuat masyarakat yang tinggal di tepian siring tergiur membuang sampah dengan mudah. Sekali lempar, wuss … sampah hanyut dan sampah pun bersih.
Kang Marno geram melihat melihat orang-orang dengan mudah membuang sampah ke siring. Tentu saja tidak pada siang hari. Jika tidak malam, ya, pagi-pagi buta. Siang hari siring terlihat bersih. Masyarakat senang sekali membuang sampah ke siring tidak terkecuali marbot masjid. Setelah mengumpulkan sampah di kotak sampah berbentuk ember besar, sang Marbot segera membuangnya ke siring tanpa merasa bersalah. Hal itu membuat Marno berniat membuat kisi-kisi besi agar sampah yang dibuang menyangkut dan tertahan tidak sampai ke hilir siring.
Kang Marno yang tukang las segera membuat kisi-kisi besi dan memasangnya diam-diam di bawah jembatan depan masjid pada dini hari. Dibantu anaknya, Kang Marno selesai memasang kisi-kisi. Tidak ada yang tahu kecuali sang Marbot. Saat itu ia keluar hendak membuang sampah masjid. Keesokan hari kehebohan terjadi, air meluap hingga ke jalan raya. Masyarakat panik. Sore hari rumah Kang Marno diketuk seseorang. “Ikut saya ke kantor!” kata anggota Polsek datar.
Tugumulyo Musi Rawas, 6 Juni 2025
PakDSus