artikel

Mengubah Bosan dengan Menulis Semudah Bersiul

Benar kata orang, menunggu itu pekerjaan yang membosankan. Akan tetapi, hal ini harus tetap kami lakukan karena kami mau tidak mau harus menunggu giliran diperiksa di ruang periksa poli rawat jalan Rumah Sakit Siti Aisyah Lubuklinggau.

Jumat dan Sabtu (8/12 – 9/12) kami harus menginap di RSSA (Rumah Sakit Siti Aisyah) Lubuklinggau. Setelah pulang, kami dijadwalkan untuk melakukan kontrol ke poli rawat jalan pada hari Rabu (13/12).

Pada hari yang ditentukan, kami pun melakukan persiapan. Persiapan sudah kami lakukan sejak pagi, lalu berangkat dari rumah menuju ke RSA mengendarai mobil. Ya, cuaca sedang tidak menentu, sebentar gelap, mendung, tidak lama kemudian mentari kembali tersenyum cerah. Oleh karena itu, meskipun nyaman bersepeda motor, kami memilih mengendarai mobil.

Sampai di rumah sakit kami menuju loket pendaftaran. Kami tidak perlu menunjukkan surat rujukan karena surat kontrol yang diberikan ketika pulang dari rawat inap memang menyebutkan harus kontrol pada tanggal 13 Desember 2023.

Setelah mendapat nomor urut, Ibu Negara langsung menuju ke meja pengukuran tekanan darah. Setelah diukur diinformasikan bahwa tekanan darah Ibu Negara 120/70. Tidak ada komentar dari petugas. Dengan demikian kami menganggap bahwa kondisi itu kondisi yang normal.

Setelah itu, Ibu Negara duduk di bangku tunggu deretan pasien yang mengantre menunggu panggilan. Sementara aku memilih menjauh dan duduk di kursi di depan ruang dokter syaraf, dokter yang tiap bulan kami kunjungi hingga Oktober lalu.

Pasien pagi itu sangat banyak sehingga nomor antrian 54 harus kami pegang berjam-jam. Menunggu giliran dipanggil di ruang poli penyakit dalam untuk menghadap dokter Yudistira harus ekstrasabar. Setelah dipanggil dan Ibu Negara menyerahkan berkas nomornya, kami menuju ruang tunggu dokter penyakit dalam. Heh, lain lagi ya dokter yang menangani.

Lebih dari tiga jam. Kami harus menunggu antrean. Kursi ruang tunggu di depan pintu masuk ruang periksa penuh. Bahkan, ada seorang bapak rela berbaring di lantai. Rupanya ia tertidur. Aku tidak tahu, dia adalah pasien atau pengantar keluarganya yang sedang sakit dan membutuhkan pertolongan dokter.

Lama menunggu belum juga dipanggil. Kami pun menuju ke tempat parkir menuju mobil. Haus, ingin minum. Air teh ternyata masih panas. Padahal tumbler air hangat itu sudah pecah tutupnya. Rupanya dinding perangkap suhu panas termos kecil itu masih berfungsi dengan baik.

Setelah menikmati sebungkus roti dan minum air teh kami kembali ke ruangan. Pasien di ruang tunggu tinggal sedikit. Tidak lama kemudian ….

“Ibu Eni …!” panggil petugas medis berpakaian seragam hijau toska memangil nama Ibu Negara.

Kami segera bangkit berdiri dan bersama-sama masuk ke ruang periksa dan duduk di depan meja dokter.

Dokter memberikan beberapa pertanyaan tentang kondisi Ibu Negara. Dengan jujur Ibu Negara menjawab pertanyaan dokter. Setelah mendapat jawaban, terlihat sang dokter menuliskan sesuatu di buku catatan pemeriksaan.

Dokter yang ganteng dan masih muda itu pun kemudian memasang stetoskop di telinganya. Ia memeriksa beberapa bagian di daerah sekitar dada Ibu Negara.

Aku tidak cemburu dan membiarkan dokter ganteng itu melakukan tugasnya. Tidak ada perubahan raut muka sang dokter. Aman, batinku. Sang dokter kemudian duduk dan kembali menuliskan sesuatu di lembar catatan yang tembus ke lembaran kedua berwarna merah.

Sebelum kami keluar, dokter berpesan untuk cukup minum dan makan makanan yang bergizi. Pesan yang normatif. Akan tetapi, karena yang berpesan dokter tetap kami harus mematuhinya.

Setelah itu, petugas medis yang memanggil kami tadi menyerahkan lembar kedua catatan dari dokter berwarna merah. Lembaran itu berisi resep untuk diserahkan ke apotek.

Petugas loket apotek menerima dengan ramah lembar resep yang diberikan oleh Ibu Negara. Kemudian ia menyuruh Ibu Negara untuk duduk dan kembali sabar menunggu giliran menerima obat.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.56 WIB. Namun, obat belum juga diserahkan. Ibu negara menunggu di kursi tunggu yang berada di depan loket apotek. Sementara, aku menuju ke ruang bermain anak.

Di ruang bermain anak ada beberapa kursi yang kosong. Anak-anak sudah tidak ada lagi yang bermain. Beberapa alat permainan masih berserakani akibat dimainkan anak-anak pada pagi hari.

Sambil menunggu dan untuk menghilangkan jenuh aku buka hape. Grup WA sepi dari percakapan. Ada satu grup yang cukup ramai karena ada kabar seorang pengawas SMA meninggal dunia.

Bosan membaca, aku iseng-iseng membuka aplikasi Writer Jurnal. Aplikasi yang baru aku temukan beberapa minggu yang lalu itu sangat nyaman dipakai untuk menuliskan sesuatu tanpa harus mengetik.

Dokumen Susaanto (Tangkapan layar laptp laman aplikasi Writer Journal)

Aku tinggal berbicara saja dan tulisan berwarna putih dengan latar berwarna hitam segera tersaji. Nyaman di mata terutama untuk mata tuaku yang berangsur rabun.

Sebelumnya, aku memasang keyboard Google atau G-Board di hape dan mengizinkan fitur dikte pada pengaturannya. Dengan mudah aku bisa menuliskan larik-larik kalimat tanpa harus menarikan jari di atas keyboard. Nyaman sekali. Pikirkan sesuatu, ucapkan, dan … jadilah tulisan.

Akhirnya, menunggu giliran menerima obat yang seharusnya membosankan berubah menjadi lebih mengasyikkan. Aku bisa mendiktekan apa pun. Asalkan jaringan internet stabil, menulis banyak kalimat dapat dilakukan tanpa aku harus bersusah payah mengetik.

Aku baca kembali tulisanku sekilas, lalu layar hape kutekan cukup lama. Beberapa kata terblok. Pada kotak dialog kutekan tanda titik tiga, lalu aku menyentuh tombol “pilih semua” dan “potong”. Tulisan yang terpilih segera menghilang dari layar. Kubuka WA Grup yang anggotanya aku sendiri. Lalu, potongan tulisan itu aku tempelkan. Jreng … tulisan pun berpindah.

Pada aplikasi Writer Journal sebenarnya ada fitur ‘Export’., Docx Export, HTML Export, Pdf Export, Md Export, Txt Export, dan WjDoc Export. Akan tetapi, semua fitur eksport itu terkunci karena aku pemakai gratisan.

This feature is only available in premium version, please buy premium plan to unlock this feature.

Biarlah aku memilih fitur gratis dan menggunakan cara tradisional untuk memindahkan tulisan. Setelah membuka laptop dan membuka whatsapp web tulisan itu aku salin dan kutempelkan di blog.

Penulis yang baik memeriksa tulisan sebelum memublikasikan. Baca dengan saksama, poles sana dan sini, carikan gambar ilustrasi, akhirnya tulisan tersaji di hadapan sidang pembaca.

Sudahkah menginstal aplikasi Writer Journal di HP Android Anda? Jika belum pasanglah! Dengan bantuan keyboard Google dan aplikasi Writer Journal, menulis semakin mudah, semudah bersiul.

Musi Rawas, 13 Desember 2023
Salam dan Bahagia
PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

4 thoughts on “Mengubah Bosan dengan Menulis Semudah Bersiul

  • Menarik sekali✌

  • Aplikasinya perlu dicoba y Pakde. Kayak ChatGpt. Suami SIAGALIS. Siap, antar jaga lalu tulis. Moga sehat ya kepala negara dan ibu negara.

  • Mantap punya grup yang hanya sendiri anggotanya. Hehe

  • Wah mantap pak, semoga terus konsisten. Walupun ini blognya juga udah konsisten, keren

Comments are closed.