bahasa

Ular Berbisa di Kebun Karet

Sejak hari Kamis, para guru mendapat perintah dari kepala sekolah untuk mengumumkan kepada anak-anak didiknya bahwa pada hari Sabtu, sesudah Asesmen Semester Ganjil, sekolah akan mengadakan Gerak Jalan Sehat dan makan masakan Ibu di kebun.

Pada hari Sabtu, halaman sekolah riuh dengan semangat anak-anak dari kelas 1 hingga kelas 6. Sesuai pengumuman, mereka melaksanakan salah satu program GSS (Gerakan Sekolah Sehat), yakni sehat fisik.

Semua siswa berbaris rapi di lapangan. Membawa bekal nasi dan lauk pauk masakan ibu dalam tas masing-masing. Setelah berdoa bersama, mereka memulai perjalanan jalan sehat.

Keluar dari gerbang sekolah, anak-anak didampingi guru masing-masing menyusuri jalan raya, persawahan, hingga perbatasan kampung. 

“Jangan lupa, jalan santai ya! Jangan berlari!” seru Pak Eko, guru kelas enam, sambil memeriksa barisan.

Sambil berbaris, anak-anak tertawa-tawa sepanjang jalan, saling berbagi cerita sambil menikmati udara pagi yang segar. Perjalanan mereka penuh canda terutama saat melewati jembatan kecil di atas parit di persawahan. Beberapa siswa terpaksa berlari-lari kecil karena ketinggalan cukup jauh. 

Jembatan kecil di atas parit (Dok. Susanto)

Setelah keluar dari persawahan, rombongan menyusuri jalan kecil beraspal. Akhirnya, mereka tiba di sebuah kebun karet yang rindang. 

Pohon-pohon karet berbaris rapi, memberikan keteduhan yang pas untuk beristirahat. Para guru sibuk mengatur anak-anak agar mencari tempat duduk di bawah pohon.

“Hati-hati, sebelum duduk lihat sekeliling, takutnya ada binatang kecil yang tidak terlihat!” teriak Pak Eko.

Suasana berubah tenang saat anak-anak mulai membuka tas gendong mereka. Nasi bungkus mereka keluarkan dan setelah berdoa, dengan lahap anak-anak menyantap bekal masing-masing.

Pak Eko, yang sudah lapar sejak tadi, duduk di salah satu akar pohon karet besar. Beliau membuka bungkus nasinya dengan antusias. 

“Ah, ini dia yang saya tunggu-tunggu,” katanya sambil tersenyum lebar. 

“Kenapa, Pak?” tanya Bilkis.

“Pak belum makan tadi pagi,” jawab sang guru.

Lauk nasi Pak Eko sederhana, sayur buncis, tahu goreng, dan ikan nila goreng pemberian teman gurunya.

“Terima kasih, pak Yar, ikannya sedap!” komentar guru-guru teman Pak Eko.

Makan bersama di kebun karet (Dok. Pribadi)

Di sudut lain, Soleh, murid kelas lima yang dikenal iseng, memperhatikan Pak Eko dari kejauhan. Matanya berbinar ketika melihat sesuatu di dalam tasnya. 

Ide nakal langsung terlintas di benaknya. Ia segera mendekati teman-temannya, berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah Pak Eko.

“Kalian lihat itu, Pak Eko makan serius banget. Kita kerjain, yuk!” kata Soleh sambil memamerkan mainannya.

“Jangan, nanti dia marah!” bisik Lego, salah satu temannya.

“Tapi lucu, kan? Nggak bakal marah, paling cuma kaget. Lagi pula, Pak Eko kan tidak pernah marah,” jawab Soleh sambil tertawa kecil.

Dengan hati-hati, Soleh melemparkan ular mainannya ke dekat kaki Pak Eko. Saat itu, Pak Eko sedang asyik menyuap nasi ke mulut. Tiba-tiba, salah satu anak perempuan yang melihat ular itu berteriak keras.

“Pak, ada ular!” serunya sambil berdiri panik. Pak Eko, yang mendengar teriakan Sabil langsung menoleh.

“Haa …!” jeritnya sambil berdiri spontan. Mata pak guru terbelalak saat melihat ular belang sebesar kelingkingnya. Nasi bungkus yang sedang ia pegang melayang ke udara, lauknya terlempar ke tanah. Pak Eko melompat menjauh dengan wajah pucat.

Anak-anak yang lain pun ikut berteriak. Namun, mereka menyadari sesuatu yang aneh. Ular itu diam saja. Tiba-tiba, terdengar suara tawa.

“Ha ha ha … ini cuma mainan, Pak!” katanya sambil terbahak-bahak dan memungut ular mainan itu.

Pak Eko, yang awalnya kaget setengah mati, mulai menyadari keisengan itu. Raut mukanya berubah. Pak Eko pura-pura marah.

“Soleh, sini!” perintahnya dengan mimik marah.

Soleh pun mendekat dan membungkuk, “Maaf, Pak, cuma mainan.”

“Kalau jantung saya copot, bagaimana, he …!” kata Pak Eko sambil pura-pura menjewer telinga Soleh.

“Ampun, Pak, maaf,” Soleh nyengir kuda mengetahui gurunya tidak marah beneran.

Semua murid yang mengetahui adegan itu, tertawa bersama, termasuk Pak Eko. Meski ada nasi yang terbuang, suasana kebersamaan hari itu menjadi kenangan yang tak terlupakan. Soleh pun berjanji untuk tidak iseng lagi. Jalan sehat, jiwa pun sehat.

Musi Rawas, 14 Desember 2024

PakDSus
Bloger Guru di Musi Rawas

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

One thought on “Ular Berbisa di Kebun Karet

  • Luar biasa sekali alur ceritanya pak….boleh donk kenalan sama pak Eko yang super sabar…he

Comments are closed.