artikel

Peluncuran, Perbincangan, Pembacaan Cerita, dan Beli Buku Batu Belah Batu Betangkup

Bincang Buku (Tangkap Layar IG @bennyinstitute)

BLOGSUSANTO.COM – Peluncuran, Bincang, dan Baca Cerita Rakyat Limatara Batu Belah Batu Betangkup digelar di Lobi Benny Institute Lubuklinggau, Minggu (07/01/2024) dalam rangka 12 tahun Benny Institute berkiprah di dunia literasi.

Digawangi Benny Arnas seorang penulis nasional dan sastrawan, pada awal berdirinya berkonsentrasi pada sastra (literasi baca dan tulis). Memasuki tahun ke-4 kegiatan yang dilakukan diperluas pada bidang fotografi, konten media sosial, wicara publik, dan seni peran.

Melalui Dika, sang narahubung, komunitas Guru Pecinta Literasi diundang untuk menghadiri perayaan yang diselenggarakan sehari penuh pada Minggu (07/01/2024). Dari 3 sesi kegiatan perwakilan komunitas Guru Pecinta Literasi Musi Rawas mengikuti satu di antaranya. Ada yang ikut pagi, ada yang ikut petang hari.

Ketika TVRI masih satu-satunya media audio visual di Indonesia aku pernah menonton drama anak Batu Belah Batu Betangkup. Saat itu aku masih anak-anak dan menontonnya di rumah tetangga. Nama tokoh pada drama itu aku lupa, tetapi inti ceritanya adalah ibu yang dikecewakan anak lalu meminta batu yang bisa membelah dan menangkup untuk menelan tubuhnya.

Ketika dewasa, aku menemukan buku dalam bentuk berkas .pdf dengan judul yang sama, Batu Belah Batu Betangkup. Buku itu diterbitkan oleh Penerbit Kanisius Yogyakarta tahun 1994.

Inti cerita pada buku terbitan Kanisius itu adalah seorang janda yang kempunan*) karena ingin makan pais telur ikan temakul tetapi sang anak yang beranjak gadis menghabiskannya. Lalu, sang janda yang sangat kecewa itu pergi meninggalkan si anak gadis beserta adiknya yang masih bayi.

Sang janda pergi ke atas batu belah, lalu berpantun dengan suara sangat memilukan. Ia meminta batu itu menangkup dirinya hingga tumit. Yang Sari, si anak gadis menangis tetapi si emak tidak memedulikan, bahkan meminta batu menangkup dirinya hingga pinggang.

Yang Sari, nama si anak gadis terus menangis sambil mengendong adiknya dan meminta kepada ibunya agar mau menyusui adiknya. Sang Janda lalu meminta adik Yang Sari untuk disusui. Setelah puas menyusu, sang adik diserahkan kembali kepada Yang Sari.

Si ibu yang sudah kecewa pun berucap agar batu menangkup dirinya hingga kepala. Yang Sari menangis sejadi-jadinya, menyesali perbuatannya menghabiskan pais telur ikan temakul tanpa menghiraukan ibunya yang kelaparan hingga kempunan.

Cerita rakyat daerah tentang Batu Belah Batu Betangkup disebarkan dari mulut ke mulut secara lisan. Karena disebarkan secara lisan, sangat wajar apabila memiliki banyak variasi nama di setiap daerah. Tidak terkecuali di daerah Musi Rawas.

Buku Batu Belah Batu Betangkup (Tangkap layar IG @bennyinstitute)

Di sebuah desa bernama Binjay, Kecamatan Muara Kelingi, konon berkembang cerita. Apabila seseorang putus asa dan merapal nyanyian berisi permintaan kepada Batu Raksasa yang bisa membelah dan menangkup, sang batu akan mengabulkan pemohon menangkup bagian-bagian badannya, tanpa rasa sakit. Syaratnya, orang itu bersenandung dan memohon kepada sang batu.

Begitulah Dany Georgetown mengaksarakan cerita rakyat itu dalam sebuah cerita yang dibukukan bersama sembilan cerita lainnya dan dikemas dalam buku kecil berjudul Batu Belah Batu Betangkup. Tokoh dan peristiwa yang dialami oleh seseorang yang kecewa berbeda dengan cerita batu Belah Batu Betangkup terbitan Kanisius, Yogyakarta.

Demikian pula akhir ceritanya. Batu Belah Batu Betangkup, cerita rakyat dari Binjai Muara Kelingi, Musi Rawas. Sang Batu mampu berbicara, membelah dan menangkup, serta menggelinding mengejar orang putus asa yang datang kepadanya.

Samila, ibu yang kecewa kepada anak-anaknya dan juga orang-orang kampung yang mencibir perangai anak-anaknya mendatangi sang Batu. Batu itu tidak menangkup badan Samila karena Samila tidak kunjung bersenandung. Bahkan, akhirnya Samila ketakutan dan berlari. Sang Batu yang sudah membelah dan siap menelan tubuh Samila mengejar dan terus mengelinding ke arah Samila.

Pada sesi paparan, sang penulis cerita Batu Belah Batu Betangkup tidak bisa hadir. Jadi, peserta akhirnya tidak bisa membedah, membelah Batu Betangkup.

Lain halnya dengan kesembilan cerita lainnya, dituturkan latar penulisan dan hal-hal yang berkaitan dengan karya mereka, lalu dilanjutkan dengan tanya jawab dan apresiasi kritis kepada sang penulis.

Selesai acara, seperti biasa, aku membeli buku beberapa sesuai kemampuan kantong sebagai bentuk apresiasi kepada para penulis.

Akhirnya, selamat memasuki tahun kedua belas, Benny Institute dan Tim Kreatif. Menemukanmu tidak aku sesali mengapa tidak dari dahulu. Sebaliknya, menemukanmu menjadi hal yang patut aku syukuri sebagai karunia terindah dalam hidupku yang fakir ilmu dan papa karya.***

*) kempunan = rasa kecewa yang sangat berat (misalnya, karena keinginan menyantap makanan tidak kesampaian)

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

4 thoughts on “Peluncuran, Perbincangan, Pembacaan Cerita, dan Beli Buku Batu Belah Batu Betangkup

  • Keren banget Pakde, sebenarnya penulisnya hadir Pakde. Cuma tidak mau ditampil. Maklum, banyak fansnya. Saya suka tulisannya. Ringan dan mengalir dengan menguar De Javu saya tentang ceritanya.

  • Cerita rakyat khas akan pesan moral dan etika anak kepada orangtuanya sangat menginspirasi anak-anak zaman now agar selalu mendahulukan adap daripada ilmu terima kasih pakde sudah mengulas cerita, sehingga kami dapat detail isi cerita

  • Mantap pak De, gerakan literasi yang luar biasa

Comments are closed.