bahasa

Puisi yang Tidak Jadi Dibacakan

canva.com

Kelas 11 kembali riuh. Usai pelajaran bahasa Inggris dari Bu Tini, Yusni kelihatan gelisah. Ia kelihatan sibuk mengaduk-aduk isi tasnya. Tidak lupa laci mejanya menjadi sasaran pencarian. Ia seperti kehilangan sesuatu. Mukanya mulai memucat. Beberapa kali tangannya membetulkan kerudung abu-abunya. “Bener kamu nggak tahu, Pit?” Sebaris pertanyaan ditujukan kepada Pipit, teman sebangkunya. Pipit menjawab dengan gelengan kepala, mulutnya masih seperti biasa bergerak-gerak, sesekali menjulurkan lidah, dan “plop” sebuah gelembung elastis tiba-tiba pecah, permen karet.

“Teman-teman!” terdengar suara lantang Wahyu, sang ketua kelas menghentikan anak-anak kelas 11 IPS 2 dari kesibukan masing-masing. Tidak terkecuali Yusni. “Mister Beje, sang penyair kita akan membacakan puisi,” kata Wahyu kembali. Seperti kerbau dicucuk hidung, anak-anak duduk teratur di kursi terdekat. Sebagian anak ada yang duduk di meja. Beje, pemuda berperawakan atletis itu memang suka bermain kata, hingga teman-temannya menjulukinya sang penyair. Ketika Beje dengan lagak aktor panggung masuk lalu berdiri di lantai yang lebih tinggi di bawah papan tulis, Yusni semakin tegang. Ia sangat mengenal buku bersampul kuning yang dipegang Beje. Apalagi ketika Beje membuka buku itu dan menuju ke lembar bagian belakang, Yusni semakin yakin bukan puisi biasa yang akan dibaca Beje. Sekarang ia mulai tahu jawaban pertanyaannya kepada Pipit.

“Hentikaaaan …!” Tiba-tiba Yusni meraung, lalu berlari ke arah Beje sang Penyair, sambil merebut buku bersampul kuning itu. Secepat kilat buku sudah berpindah tangan. Tanpa merasa bersalah, tiba-tiba Beje tertawa terbahak-bahak diikuti Indra yang duduk di pojok kelas. Sementara Yusni hanya bisa sesenggukan. Air matanya menetes membasahi tulisan di halaman bagian belakang buku bersampul kuning itu, “utang umak bulan duo“.

“Celoteh anggota Lagerunal pada Selasa dan Rabu, 9&10 maret 2021”

Salam Blogger Sehat
PakDSus
Blogger Guru Musi Rawas
https://blogsusanto.com/

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

3 thoughts on “Puisi yang Tidak Jadi Dibacakan

Comments are closed.