
Cerpen Anak
Cerpen anak atau cerita pendek untuk anak-anak adalah karya tulis berbentuk prosa naratif fiktif. Terdapat beberapa pelaku dan dialog di dalamnya. Cerpen anak merupakan nukilan kehidupan anak-anak yang merangsang imajinasi mereka. Anak-anak diajak untuk mengalami atau seolah melihat kejadian yang dituturkan.
Semenjak mengikuti webinar tentang menulis cerpen anak, saya mulai belajar menulis cerpen anak. Berikut cerpen anak yang saya buat.
Seragam baru
Sudah hampir dua tahun ini, Nunik bersekolah dengan cara belajar jarak jauh. Sesekali ia berkumpul dengan kelompoknya dan dibimbing gurunya, Ibu Yamini. Karena pandemi Covid-19 Nunik dan kawan-kawan tidak diperkenankan bersekolah dengan cara tatap muka. Selain belajar tatap muka dalam kelompok kecil, teman-teman Nunik ada yang dibimbing Bu Yamini dengan bantuan gawai. Nunik, tidak. Ia tidak memiliki gawai android seperti teman-teman lainnya. Ayah Nunik hanya bekerja sebagai buruh kasar. Ibu Nunik berjualan kue buatan sendiri yang dijajakan keliling kampung.
“Mak, baju Nunik sudah kecil,” rengek Nunik suatu hari. Ia menunjukkan baju seragam sekolah kepada ibunya.
“Coba dipakai dulu. Belum dipakai kok bilang tidak muat,” jawab ibunya.
Nunik pun memakai pakaian seragam itu seperti saran ibunya.
“Aduh, sempit sekali. Kancingnya terasa kencang, Mak!” kata Nunik sambil memasang kancing bajunya satu demi satu, “napasku sesak juga!”
Setelah seragam sekolahnya dipakai, terlihat bahwa bajunya sudah kekecilan. Setelah kancing bajunya terpasang, badan Nunik erat terbungkus seperti lontong daun pisang. Lengan bajunya yang pendek terlihat naik. Perut Nunik pun kelihatan menonjol.
Lutut Nunik yang seharusnya tertutup bagian bawah rok pendeknya, terlihat jelas. Jika dipandang keseluruhan, Nunik terlihat lucu. Hampir saja Bu Tika tertawa melihat penampilan anak gadisnya yang tahun ini akan naik ke kelas 3. Namun, ia teringat belum mempunyai uang untuk membeli seragam baru bagi anaknya, penampilan puteri satu-satunya yang terlihat aneh itu tidak membuatnya tersenyum apalagi tertawa.
“Bagaimana baju seragam satunya lagi, Nak?” tanya Bu Tika.
Nunik pun segara berlari mengambil seragam sekolah lainnya.
***
“Pak, seragam Nunik sudah kekecilan. Dua minggu lagi ia masuk sekolah tatap muka katanya,” keluh Bu Tika kepada suaminya.
“Bagaimana lagi, Mak. Kerjaan lagi sepi. Bapak kadang dapat uang, kadang tidak. Untuk membeli baju Nunik satu setel saja kita belum mampu, apalagi harus membeli dua setel sekaligus. Tentu uangnya lumayan besar,” jawab Pak Cip, ayah Nunik.
“Iya, ya. Jualan Mak sebenarnya lumayan, namun karena dagangan kita tidak seberapa, keuntungan yang kita perolah pun tidak seberapa. Bisa memberi Nunik makan saja sudah bersyukur. Emak hampir tertawa melihat Nunik pakai bajunya kemarin. Tapi, emak segera sadar. Emak belum bisa membelikan baju untuknya, ” jawab ibu Nunik sambil mengusap kening Nunik yang sudah pulas tertidur dan menyibakkan rambut tipisnya.
“Yah, semoga besok ada rezeki untuk kita, Mak. Yuk, kita tidur. Hari sudah malam. Pagi-pagi kita bangun dan berdoa semoga Tuhan memberikan jalan keluar,” ajak bapak Nunik. Kedua orang tua Nunik pun menuju ke peraduannya untuk beristirahat.
Keesokan harinya, ayah Nunik berpamitan untuk berangkat bekerja.
“Nunik, Bapak pergi dulu. Doakan dapat rezeki, ya?” pamit Pak Cip sambil mengusap rambut Nunik dengan penuh rasa sayang.
“Ya, Pak. Hati-hati!” balas Nunik melepas kepergian ayahnya.
“Mak! Bapak pergi dulu!” kata Pak Cip setengah berteriak karena istrinya masih di dapur.
“Ya, Pak. Hati-hati, Mak masih nyiapin dagangan, nih!” jawab ibu Nunik tidak kalah kuat.
Nunik memandangi punggung ayahnya yang perlahan meninggalkan halaman rumah mereka. Ia terlihat murung, dua minggu lagi pembelajaran tatap muka diberlakukan, tetapi baju seragamnya kekecilan. Baju yang kekecilan tidak nyaman dipakai dan malu dilihat teman-temannya, begitu kata hati Nunik.
Ketika belajar jarak jauh, ia boleh memakai pakaian yang dikenakan di rumah, asal bersih dan sopan. Namun, dua minggu yang akan datang ia harus mengenakan pakaian seragam sekolah karena pembelajaran tatap muka sudah dimulai.
***
Menjelang tengah hari, ibu Nunik pulang dari berjualan. Barang dagangannya habis terjual. Kue lapis, gorengan, dan aneka jajanan buatannya ludes terjual. Tidak lama kemudian, ayah Nunik pun pulang. Biasanya, ayah Nunik pulang menjelang waktu senja.
“Tumben si Bapak sudah pulang? Ada apa, Pak?” tanya ibu Nunik keheranan.
“Iya, Mak. Hari ini agak sepi. Nggak banyak yang minta tolong pikulkan barang-barangnya,” jawab ayah Nunik beralasan.
“Cuman, Bapak tadi ketemu sama Pak Anas. Dia bilang, Pak Cip bantu saya bikin taman depan rumah, ya? Pak Cip ‘kan tukang batu kawakan, katanya,” cerita Pak Cip kepada istrinya.
“Terus, Bapak menyanggupi?” tanya ibu Nunik berbinar.
“Iyalah, ada kesempatan bekerja yang sesuai dengan keahlian Bapak, masa Bapak tolak, Mak?” jawab Pak Cip menambah bahagia perasaan hati ibu Nunik.
“Puji syukur, akhirnya ada jalan untuk membelikan Nunik seragam ya, Pak” timpal Bu Tika setengah berbisik, penuh kebahagiaan.
***
Seminggu kemudian, berkat bekerja di rumah Pak Anas, ayah Nunik mendapat upah yang cukup lumayan. Uang yang diterima ia berikan kepada istrinya. Dengan uang itu, Nunik dibelikan baju seragam dua setel sekaligus. Tidak lupa ia membelikan kaus kaki baru. Untunglah, sepatu Nunik masih muat. Ibunya sengaja membelikan sepatu dengan nomor yang agak besar. Seiring pertumbuhan badan Nunik, sepatu itu masih muat dipakai.
“Nunik, lihat ini!” panggil bu Tika kepada anaknya.
Nunik yang sudah lama menunggu ibunya pulang dari pasar, segera berlari mendekat.
“Seragam baru!” teriak Nunik.
“Iya, coba pakai, kebesaran tidak?” perintah bu Tika.
Dengan semangat, Nunik segera memakai baju seragam sekolahnya.
“Sebentar, Mak. Nunik ambil sepatu sama tas,” kata Nunik sambil berlari ke dalam kamar.
Ia pun segera mematut diri di samping ibunya. Baju seragam barunya ia pakai, kaus kaki bergaris pada pangkalnya segera ia sarungkan. Tas punggung yang warnanya mulai memudar pun disandangnya.
“Mak, terima kasih,” kata Nunik terus mematut diri di depan cermin besar lemari pakaian.
Senyumnya melebar, matanya berbinar, tanda hatinya sangat riang.
Sedang asyik Nunik mematut diri, tiba-tiba terdengar suara.
“Suiiiit!”
Kedua perempuan itu menoleh ke arah sumber suara. Rupanya Pak Cip membuat bunyi dengan memasukan jari ke dalam mulutnya, lalu meniupnya dengan keras menyerupai peluit.
“Bajunya dicuci dulu! Ngomong-ngomong, Bapak belum ngopi, nih!” kata pak Cip dengan mimik lucu. Ketiga anak-beranak pun tertawa bersama.
Ceritanya mengalir seperti kisah nyata..
Ceritanya luar biasa Pak D. Bisa dibayangkan perasaan Nunik dan ayah ibunya. Happy ending.
Keren
Bagus pak D , Realistis anak saya juga seperti itu pak.
Mantap
Bagus sekali cerpen anak yang ditulis Pak D. Simpel tapi menawan. Ingin rasanya menulis cerpen seperti ini, tapi belum bisa. Sukses ya, Pak D.
Alhamdulilah baju seragam baru, semangat baru… Mantab cerpennya Pak D.
Cerita yang sedih tapi dikemas dengan bahasa yang segar dan menghibur dengan “happy ending”
Deskripsinya bagus, Pak. Inget waktu dulu, jadi anak kecil seneng banget punya seragam baru.
baru belajar buat cerpen, sudah bagus p de, saya mau belikan baju buat Nunik nih, tapi sudah keduluan di belikan sama Ibu Nunik, Alhamdulillah Bu Nunik dapat rezki.
Nung juga bajunya kekecilan…