bahasa

Gara-gara Copy Paste

Gambar dari Grup AISEI Writing Online 2

Masih seputar cerpen anak, karya tulis berbentuk prosa narasi fiksi untuk anak-anak. Berikut satu cerpen anak untuk Pembaca semua.

Gara-gara Copy Paste

Seperti tahun sebelumnya, tahun ini Pak Eko meminta anak kelas enam membuat blog dengan hape masing-masing. Pembelajaran masa pandemi membuat pertemuan mereka dibatasi. Oleh karena itu, media blog menjadi pilihan Pak Eko untuk memberikan materi pelajaran. Blog yang dibuat anak-anak digunakan untuk berlatih menulis.

Tugas yang diberikan oleh Pak Eko kadang sederhana saja, seperti: menuliskan pengalaman sehari-hari, menyalin dan menjawab pertanyaan, atau menulis berdasarkan gambar. Tidak jarang, Pak Eko membuat undian. Tautan blog yang berisi tulisan anak-anak diundi. Yang namanya keluar mendapat hadiah dari Pak Eko.

Pada minggu terakhir semester ganjil, Pak Eko memberi tugas menulis. Pak guru kelas enam itu memberi tugas memotret sebuah benda. Benda itu boleh buah-buahan, binatang, pohon, atau lainnya. Kemudian, foto tersebut disematkan di Blogger dan mereka diminta menulis berdasarkan gambar tersebut. Tugas itu Pak Eko sampaikan melalui WA. Anak-anak yang merasa belum paham akan tugasnya diperbolehkan bertanya.

Coki, Ammar, Ages beberapa kali bertanya di grup WA kelas. Dengan sabar Pak Eko melayani setiap pertanyaan mereka. Demikian pula anak-anak perempuan, Anita, Siva, Amel, Nadia, dan Luthfi tidak kalah sibuknya bertanya di grup tentang tugas menulis itu.

“Pak, kalau aku motret buah, boleh aku ceritakan manfaatnya saja?” tanya Luthfi pada kolom chat WA.

“Pak, boleh tidak meniru tulisan di Google?” tanya Anita pula.

Membaca pertanyaan murid-muridnya, Pak Eko pun tersenyum.

“Anak-anak, ceritakan saja dengan bahasamu. Jangan meniru, apalagi meng-copy paste tulisan orang di Google. Selain melanggar hak cipta, sesungguhnya hal itu membunuh kreativitas kalian semua. Lalu, bagaimana caranya?” tulis Pak Eko di grup kelas mereka.

“Caranya, tulislah bagian pembukaan, lalu inti, dan terakhir penutup,” lanjut Pak Eko.

“Beri contoh dong, Pak!” tulis Nadia, murid perempuan yang kerap bertingkah manja.

Pak Eko pun memberi contoh.

Belajar Menulis Berdasarkan Gambar

Pak Eko mengirimkan gambar sayuran kecipir di grup WA kelas enam. Lalu, pada kolom chat Pak Eko menulis.

“Sebagai pembuka, kalian boleh bercerita tentang sayur kecipir yang dimasak ibumu. Boleh juga membuka dengan pertanyaan. Misalnya begini.”

Pada baris berikutnya, Pak Eko menulis.

Hampir setiap minggu, sayuran hijau ini selalu tersaji di meja makan. Kecipir tumis dicampur tahu putih, ditemani tempe goreng tanpa tepung membuat makan siang sepulang sepulang sekolah nikmat sekali.

“Setelah itu, kalian menceritakan tentang: apa itu kecipir, di mana kalian memperoleh kecipir, siapa yang memasak kecipir, dan mengapa kecipir bermanfaat. Boleh juga ditambah bagaimana cara menanam kecipir.”

“Pada akhir karangan, kalian tulis kalimat-kalimat penutup. Misalnya: Nah, itulah manfaat kecipir bagi tubuh. Yuk, kita makan sayuran hijau seperti kecipir ini!”

“Bisa juga kalimat penutupnya: “Kami menyebut sayur kecipir itu dengan nama sayur bintang. Sebab, jika diiris melintang bentuknya lucu seperti bintang tetapi bersudut empat.”

“Bagaimana, Anak-anak? Jelas, bukan?”

Pak Eko mengakhiri percakapannya di WA.

Beberapa jam kemudian, di grup bermunculan link blog berisi tulisan dengan topik gambar yang diunggah.

Satu demi satu Pak Eko membuka dan membaca dengan saksama. Ada tulisan yang khas, ada juga tulisan yang mencontek tulisan di blog Pak Eko tetapi sayuran kecipir diganti dengan kangkung. Namanya juga anak-anak. Pak Eko memaklumi.

Ketika membuka blog milik Rena, terbaca kalimat yang bagus susunan kata-kata dan penulisannya. Pak Eko mulai curiga, namun ia menghargai hasil karya siswanya dan tidak ingin mengecewakan.

“Anak-anak, terima kasih sudah mengerjakan tugas. Tolong tulis di kolom chat, jika ada tugas serupa, foto apa yang ingin kalian ceritakan?”

Anak-anak pun menjawab dengan menulis pada kolom chat.

Gara-gara Copy Paste

Jawaban anak-anak, oleh Pak Eko dicatat dan dicarikan gambarnya di internet, kemudian dicetak. Pada hari Senin pagi, pada saat tatap muka, gambar tersebut dibagikan kepada mereka sesuai dengan jawaban di kolom chat WA.

“Anak-anak hari ini kita akan mengarang dengan tema sesuai gambar. Gambar itu sama dengan jawaban kalian pada kolom chat WA kemarin. Satu jam dari sekarang, boleh kalian kumpulkan. Anggap saja menulis di blog, namun sekarang medianya buku tulis,” jelas Pak Eko.

“Sama seperti kemarin, tulislah pendahuluannya, lalu isi, dan diakhiri dengan kalimat penutup. Jangan takut salah,” nasihat Pak Eko sembari memberi semangat kepada anak-anak.

Anak-anak sibuk membayangkan gambar yang ada di depannya. Lalu, larik demi larik tercipta kalimat-kalimat menjadi bacaan. Anita yang duduk di samping Rena berhasil menulis setengah halaman buku. Sesekali ia mendongak. Lalu, bolpoinnya dengan lancar melanjutkan larik-larik berikutnya.

Pemandangan yang kontras terlihat pada Rena yang duduk di samping Anita. Ia kelihatan gelisah. Bolpoin di tangannya ia main-mainkan, sesekali digigitnya. Berulang kali ia menggaruk kepala, lalu menunduk. Sudah hampir setengah jam, ia belum menggoreskan satu kalimat pun. Kegelisahan Rena tidak luput dari ekor mata Pak Eko. Guru yang suka bercanda tetapi serius itu sudah menduga, Rena akan kesulitan menulis. Pak Eko tahu bahwa Rena tidak menulis sendiri karangannya di blog. Ia hanya menyalin dengan cara “salin tempel” dari tulisan yang ada di internet.

“Bagaimana, anak-anak? Masih lama? Jika sudah selesai, silakan dikumpulkan!” perintah Pak Eko.

Suara berat Pak Eko terasa bagai guntur yang menggelegar bagi Rena. Ia belum menuliskan satu kalimat pun. Gambar yang ia terima sesuai dengan usulannya adalah buah rambutan.

Menjelang menit-menit terakhir, Rena akhirnya mengumpulkan tugas juga. Ia menjadi anak terakhir yang mengumpulkan tugas mengarang. Sekilas Pak Eko membaca hasil tulisan Rena.

Rambutan ini berwarna merah. Rasanya sangat manis. Aku suka rambutan.

Jujur Itu Hebat

“Anak-anak, ketika menulis di blog, kita bisa menyalin tulisan dari internet dan menempelkannya dengan mudah. Ingat tidak? Pak Guru pernah bilang bahwa selain melanggar hak cipta orang lain, sesungguhnya copy paste atau salin tempel mematikan kreativitas kita menulis. Karena tidak terbiasa membuat kalimat sendiri, akhirnya akan mengalami kesulitan ketika membuat kalimat.”

Mendengar nasihat Pak Eko, Rena merasa bersalah. Meskipun Pak Eko tidak menyebut nama, Rena mengakui dalam hati bahwa beberapa kali Pak Eko memberi tugas mengarang, ia hanya menyalin dan menempelkannya di blog.

Ketika teman-temannya pulang, Rena perlahan mendekati Pak Eko.

“Pak, … saya … saya minta maaf,” kata Rena terbata-bata.

“Ada kesalahan apa, Rena? Kok tiba-tiba meminta maaf?” jawab Pak Eko dengan balik bertanya.

“Karangan saya hanya tiga kalimat, Pak. Saya … saya … mengakui tugas di blog selama ini copy paste. Saya jadi tidak bisa menulis. Boleh saya perbaiki, Pak?”

Mendapat pengakuan jujur Rena, Pak Eko mengangguk-angguk.

“Syukurlah, Rena menyadari kesalahan. Terima kasih, berani jujur itu hebat. Silakan perbaiki tulisanmu. Selamat menulis, Pak Eko tunggu tulisan hebat Rena. Masih ingat apa yang harus ditulis?” Pak Eko menjawab sambil mengembalikan buku tulis Rena.

“Siap, Pak. Pendahuluan, isi, dan penutup!” jawab Rena lega. Pak Eko tidak marah malah memberinya semangat.

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

10 thoughts on “Gara-gara Copy Paste

  • Wah…ini bener² cerpen berbobot, ceritanya anak² ttp bisa mengena di hati orang yang suka copas pak D…hee

  • Merinding baca cerita ini terutama saat Rena mengakui kesalahannya. Ceritanya natural banget. Salut Pak D.

  • Arif Heri Suyoko

    Betul-betul mantab, meluncur seperti skate board atau sepatu roda di atas jalan cerita. Kata-kata dapat dituliskannya seolah air sungai mengalir begitu saja tanpa bisa di bendung, indah menghipnotis pembacanya ini yang aku suka.

  • Keren abis. Pembentukan karakternya oke banget.kalau realitanya begitu dunia menulis pasti laris

  • Pelajaran yang sangat berharga, menghargai karya orang lain dan menanamkan nilai-nilai dasar kehidupan.. Luar biasa

  • Cerpen anak yang mantap. Nilai-nilai kejujuran, mrnghargai karya orang lain, krmandirian, dan kerja keras tergambar di sana. Dalam 1 bulan bisa dijilid jadi buku, Pak D.

  • copy paste mematikan kreativitas. Akan aku usahakan tidak mengulanginya lagi. Mantabbe Pak D.

Comments are closed.