Cahayu Eka Putri (4): 5 Tips Kenalkan Literasi kepada Anak
blogsusanto.com – Halo, Neng Ayu, cucu Eyang yang tersayang. Sudah dua bulan lebih usiamu ya, Sayang. Semoga kalian sekeluarga selalu sehat. Ayah Bagus sehat, biar lancar mencari uang. Ibunda Asha sehat agar bisa memberimu ASI yang sehat.
Tulisan ini, Eyang bikin seolah kamu sudah berumur empat atau lima tahun dan sudah kenal dengan buku. Ini termasuk mimpi Eyang semoga mimpi ini menjadi kenyataan. Ayahmu pembaca yang baik pun penulis yang baik pula ketika ia mahasiswa dan sebelum ia menikah dengan ibumu. Ini gambar tangkapan layar tulisan ayahmu tahun 2017 yang Eyang buka di https://www.codepolitan.com/blog/bahasa-bahasa-untuk-pemrograman-mobile-5975f838c2a24/.

Buku-buku ayahmu setelah ia selesai kuliah juga sebagian dikirim ke rumah Eyang dan memenuhi etalase ukuran sedang. Ada komik, buku referensi, novel, dan buku-buku nonfiksi. Jadi, cerita di bawah ini adalah imajinasi Eyang membayangkan kelak kita akan berada pada situasi seperti ini. Membayangkan hal baik, semoga menjadi kenyataan. Siap ya, Neng?
5 Tips Kenalkan Literasi kepada Anak
“Ayah, mari ke kamar Ayu!” Aku diajak anak sulungku ke kamar anaknya, Neng Ayu, cucu pertamaku. Anak sulungku ternyata tidak hanya suka membeli buku untuk dirinya. Ada ratusan buku yang dibawa ke rumah ketika ia selesai kuliah. Bermacam-macam, ada komik wayang, komik silat, komik detektif, buku-buku kuliah, buku novel, dan buku-buku referensi lainnya.
Setelah Sulung mempunyai anak, ia pun membelikan anaknya buku-buku dengan ilustrasi yang keren. Bukunya full warna. Hurufnya sedang dan kalimat-kalimatnya enak dibaca. Aku jadi teringat sebuah grup WA yang banyak berisi penulis cerita anak-anak.
Di kamar sang cucu sedang membuka halaman buku ukuran majalah yang full color.
“Eyang, bacakan cerita, dong!” pinta sang cucu.
Wow, betapa bahagianya aku diminta membacakan buku cerita. Ketika aku masih merawat ayahnya dulu, ia hanya meminta aku mendongeng. Sekarang cucuku meminta aku membacakan buku untuknya.
Segera aku naik ke atas ranjang, dengan berselonjor, aku membuka lembar demi lembar cerita. Sambil membaca, ekor mataku melihat Neng Ayu yang menyimak bacaanku dengan saksama.
“Ayu, bagaimana beruang tadi?” tanyaku kepada cucu setelah ia menyimak bacaanku.
“Baik sekali, Eyang!” jawabnya polos.
Dari percakapanku dengan Ayu, ternyata setiap hari ia selalu meminta ayah atau ibunya membacakan cerita untuknya.
Aku bersyukur, anak sebagai amanah yang harus dijaga telah dididik orang tuanya dengan baik. Aku menyadari, mendidik Ayu sebagai generasi Alfa tentu sangat berat ketimbang zaman aku mendidik ayahnya antara tahun 1994 hingga 1999 saat ayah Neng umur lima tahunan.
Apabila orangtua tidak sungguh-sungguh mendidik, bisa jadi sang anak akan semaunya. Berjalan sendiri-sendiri tanpa arah.
Mengajarkan kebaikan tentu tidak cukup dengan lisan semata. Perlu keteladanan. Namun, tidak semua hal dapat dicontohkan orang tua akibat kesibukan, misalnya.
Membacakan buku ternyata mendapatkan beberapa keuntungan. Orang tua mengajarkan budi pekerti dari tokoh cerita yang dibacakannya. Hal positif pada tokoh cerita akan dengan mudah dipahami anak. Jamak, bahwa perintah orang tua sering mendapat perlawanan dari anak. Melalui buku, anak lebih mudah meniru hal positif yang ia tangkap dari teks bacaan.
Pada kunjungan berikutnya, aku sudah tahu oleh-oleh apa yang harus kuberikan kepada cucuku. Ya, buku! Aku bersama istri berburu buku anak-anak bergambar.
“Hai, Ayu. Tahu apa yang Eyang bawa?” tanyaku ketika kami sampai di rumahnya.
“Apa, Eyang?” tanyanya penuh selidik.
“Eyang bawakan buku bacaan bergambar!” kataku sambil membuka bungkus coklat yang menyembunyikan setumpuk buku-buku bergambar.
“Bagus-bagus sekali, Eyang!” teriak Ayu kegirangan.
Kebiasaan ayah dan ibunya membacakan buku sebelum Ayu tidur sangat bagus. Ayu tidak tergoda dengan hape meskipun yang ditonton adalah film kartun di channel Youtube.
Melalui buku, imajinasi anak berkembang dengan baik. Gambar di buku bukan gambar bergerak. Maka, ia akan membayangkan bagaimana benda itu terbang, berjalan, dan sebagainya. Bandingkan dengan video. Anak bisa melihat langsung bagaimana seekor burung terbang, ayam berjalan, itik berenang, dan sebagainya.
Selain bisa membelikan buku, orangtua sebaiknya juga bisa mendekatkan buku dengan anak. Bagaimana caranya agar anak senang dengan buku. Beberapa hal berikut bisa diterapkan agar anak suka dengan buku dan mau membaca.
Pertama, perkenalan dulu dengan buku bergambar. Ini kita bicara tentang anak yang masih kecil sampai usia 5 atau 6 tahun. Kita bisa ajak anak ke toko buku terdekat. Tentu, disesuaikan dengan kondisi keuangan, ya. Bisa tiga bulan sekali atau sesuai kondisi. Biarkan anak melihat buku yang disukai. Setelah orangtua melihat isi buku tersebut bagus, buku tersebut bisa dibeli. Jika tak memungkinkan kita bisa ajak ke perpustakaan daerah.
Kedua, biasakan membacakan buku jika anak belum bisa membaca. Jika sudah, kita dampingi saat anak membaca. Beri penjelasan singkat tentang isi buku. Sisipkan nasihat setelah baca buku. Tentu saja disesuaikan dengan isinya.
Ketiga, bermain peran dengan anak. Ini cara membacakan buku yang akan menjadikan anak suka buku. Bermain peran dengan anak itu mengasyikkan lho. Apa lagi kita gunakan suara dan mimik yang mendukung. Selain anak bisa dekat dengan buku, hubungan harmonis anak dan orangtua lebih dekat.
Keempat, kondisikan keluarga gemar membaca. Anggota keluarga dikondisikan untuk gemar membaca. Sebaiknya orangtua juga mempunyai pojok buku yang di sana tersedia buku-buku.
Kelima, letakkan rak buku di kamar anak. Kalau tidak ada rak, meja kecil yang diatasnya ada buku-buku anak juga bisa. Tata dengan baik agar menarik. Ajak anak berkomunikasi untuk bersama-sama menata buku.
Itulah cara agar anak dekat dengan buku. Kalau orangtua tidak memulai lantas siapa yang bisa menggerakkan anak senang membaca?
Di sekolah mungkin gurunya juga sudah mengarahkan tetapi hal ini kurang maksimal. Dengan orangtualah anak bisa kenal dan gemar membaca buku.
Aduh, Ayu, Eyang minta maaf, ya. Eyang jadi ngelantur bercerita tentang mengenalkan literasi kepada anak sejak dini. Eyang ingin bercerita juga kepada teman-teman Eyang.
Cepat besar dengan wajar ya, Cucuku. Nanti kita membaca buku bersama, mewarnai bersama, dan menulis bersama. Salam sayang untukmu. O, ya, kita harus berterima kasih kepada Eyang Dhian yang sudah memberikan tipsnya di grup RVL dan menjadi cerita Eyang hari ini.

**) Tulisan ini terinspirasi dari tulisan Eyang Dhian berjudul “Pentingnya Orangtua Kenalkan Buku pada Anak Sedini Mungkin” Oleh : Budiyanti yang dikirimkan ke Grup WA RVL, 4 Februari 2024.
Masya Allah Terimakasih pakD Inspirasinya, Semoga neng Ayu selalu sehat n cepat besar, sehingga apa yg menjadi impian eyang pada cerita di atas dapat segera terwujud, Aamiin yra
Masya Allah, Kereeen pakD ceritanya sangat menginspirasi, semoga sang Cucu selalu sehat n cepat besar, sehingga apa yg menjadi impian sang Eyang pada cerita diatas segera menjadi kenyataan
Mantab Surantap PakD Sus. Terimakasih
Ayuu… salam kenal ini Eyang Dhian. Semoga kau seperti Eyangmu yang pintar nulis. Sehat selalu ya