artikel

Telepon Ibu

Diminta, tidak, diminta, tidak. Dua kata itu silih berganti bergelayut dalam pikiran. Kubaca berulang-ulang pesan singkat yang kuterima di hape. Lalu, aku gulung lagi pesan terkirim ke atas. Tidak salah. “Ah, mengapa tidak aku edit dahulu tadi?” rutukku dalam hati.


Batere hape tersisa lima belas persen. Hape yang sudah berumur menurut ukuran perkembangan teknologi itu, segera aku isi daya. Jika sisa daya batere kurang dari sepuluh persen, biasanya bertingkah. Lambat sekali arus masuk ke dalamnya. Maklumlah, hape berumur. Setelah batere aku “cas”, badan tambunku segera kubanting ke atas kasur. Meskipun ada bantal, kepalaku masih kuganjal dengan dua telapak tangan yang kusatukan. Posisi tangan yang menandakan posisi kebimbangan.


Nada dering “Tetesan” di hape “oddo”-ku berbunyi. Aku pun segera bangkit. Nada tetesan adalah nada yang kuatur sebagai nada pesan. Ada rasa lega di dada. Pesan WhatsApp sangat menggembirakan hati. Rasa malu sedikit terobati. Karena, tanpa diminta Puteri mengembalikan kelebihan uang yang aku kirimkan. Kan malu jika harus meminta lagi uang yang sudah telanjur terkirim. Terima kasih, Mbak. Ntar ayah kirimin lagi. Sementara ini segitu dulu. Maklum, masih banyak keperluan menjelang bulan baru, tulisku di kolom chat. Hatiku lega, pikiranku pun tenang. Namun, rasa malu tidak terelakkan ketika membaca: Tadi Ibu nelpon, nyuruh Puteri mengembalikan. Kata ibu, ayah lupa ngedit SMS banking.

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

4 thoughts on “Telepon Ibu

Comments are closed.