artikel

Bersepeda Santai pada Hari Minggu (Cerpen)

Bersepeda Santai pada Hari Minggu 

Oleh PakDSus

 

Pada suatu hari, anak-anak kelas enam mengusulkan agar pada hari Minggu diadakan acara sepeda santai. Mereka ingin seperti kakak kelas mereka dahulu.

“Iya, Pak. Tapi kalau bisa jangan hari Minggu pagi. Soalnya sepeda baru ayahku dipakainya nggowes sama teman-teman ayah, Pak,” usul Lintang.

Buana yang duduk di dekatnya berbisik, “Lintang, jangan pamer! Mentang-mentang sepeda kau baru.”

“Lho, bukannya itu fakta, Na!” balas Lintang dengan suara lirih.

“Wah, sepeda ayah Lintang baru, ya?” komentar Pak Eko. “Begini saja, untuk mempraktikkan pengamalan sila keempat Pancasila, Pak Guru minta Agesta selaku ketua kelas memimpin musyawarah menentukan waktu pelaksanaan sepeda santai. Ages tidak sendiri, ia akan ditemani sektretaris kelas, Mbak Arum, dan bendahara kelas mbak Lutfiana. Catur, Vio, dan Raka boleh membantu menyusun meja untuk mereka bertiga duduk di depan!”

Banyak siswa kelas enam tahun ini hanya sembilan belas orang. Oleh karena itu, semua siswa dapat masuk sekolah, meskipun hanya belajar selama dua jam efektif.

Setelah meja yang disusun Catur dan kawan-kawan siap, Ages, Arum, dan Lutfiana duduk di kursi yang sudah disusun memanjang di depan kelas. Layaknya pimpinan sidang mereka memimpin jalannya musyawarah untuk menanggapi usulan beberapa siswa yang ingin bersepeda santai keliling desa.

Beberapa kali terdengar tawa renyah anak-anak akibat kelucuan yang terjadi ketika Agesta memimpin rapat. Akhirnya, dibantu Pak Eko, mereka berhasil membuat kata sepakat bahwa pada hari Minggu lusa mereka akan bersepeda bersama-sama.

“Kumpul jam berapa, Pak? Jam enam? Jam setengah tujuh, atau jam tujuh?” tanya anak-anak bersahutan.

“Rumah saya paling jauh, loh,” kata Pak Eko. “Bagaimana jika kita kumpul jam setengah tujuh saja?”

Anak-anak mengiyakan, musyawarah hari itu pun usai.

***

“Pak. Saya tidak bisa ikut bersepeda, Pak,” kata Gelen kepada Pak Eko.

“Kenapa. Apakah sepedamu rusak?” tanya Pak Eko.

“Tidak, Pak. Saat sepeda santai, saya sekolah Minggu,” kata Gelen sambil menundukkan kepala.

Pak Eko baru menyadari bahwa satu orang murid di kelasnya beragama Katolik. Gelen Giovani Saputri adalah satu-satunya murid kelas enam yang tidak beragama Islam. Ia adalah jemaat Gereja Santo Petrus yang ada di desa tempat tinggalnya.

“Maaf, Gelen. Saya lupa. Pada waktu musyawarah kemarin, saking serunya, saya sampai lupa kalau Gelen harus ke gereja,” jelas Pak Eko.

“Tidak apa-apa, Pak. Sebenarnya, biasanya sekolah Minggu pada jam 17.00. Nah, sejak gereja dibuka, sementara kami diminta datang pukul 7.30,” terang Gelen.

“Sebenarnya, kurang seru loh kalau Gelen nggak ikut. Tapi beribadah kepada Tuhan juga merupakan kewajiban. Sekali lagi Pak Eko minta maaf ya, Gelen?” kata Pak Eko penuh penyesalan.

“Iya, Pak. Tidak apa-apa. Mari, Pak. Saya pulang dulu,” kata Gelen sambil berpamitan.

Sambil memandang punggung anak didiknya yang semakin lama menghilang di kejauhan, Pak Eko menghela napas panjang. Ada rasa sesal akibat kelupaan. Gelen pun diam saja sehingga Pak Eko tidak menyadari ada siswa di kelas yang harus melaksanakan ibadahnya pada hari Minggu. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Bagaimanapun, hasil musyawarah harus dihormati.

***

Pada hari Minggu yang disepakati, anak-anak sudah bersiap dan berkumpul di halaman sekolah. Beraneka jenis sepeda dibawa anak-anak. Ada sepeda BMX, sepeda jengki, sepeda ontel, sepeda mini dengan keranjang belanja di depan, dan sepeda balap yang memiliki beberapa gigi roda pengatur percepatan.

“Pak Eko belum datang juga, ya?” celetuk Ages.

“Iya. Mungkin masih di jalan. Sepeda Pak Eko kan sepeda ontel. Lagi pula rumah Pak Eko sekitar 11 kilo dari sini,” tukas Coki menjelaskan.

Sambil menunggu Pak Eko, terlihat anak-anak berkeliling mengitari lapangan voli. Sebagian lagi duduk santai sambil minum air teh manis.

“Nah, itu Pak Eko!” teriak anak-anak senang.

“Maaf, anak-anak agak terlambat. Saya tadi mampir ke tempat Pak Riyadi. Beliau akan bersama-sama kita bersepeda ria,” jelas Pak Eko. Pak Riyadi adalah teman Pak Eko yang sekarang menjadi kepala sekolah di desa tetangga.

“Siap, Pak!” teriak anak-anak bersamaan.

Segera anak-anak berbaris rapi. Sepeda yang memiliki standar distandarkan, sedangkan sepeda yang tidak memiliki standar dipegang anak-anak di sisi kanan badan tuannya. Mereka dipimpin Pak Eko berdoa bersama.

“Rute yang akan kita tempuh sebagian adalah jalan raya. Oleh karena itu, harap hati-hati dan tidak boleh saling mendahului. Jika ada sepeda teman yang kebetulan rusak atau bannya kempis, teman yang lain harus menunggu,” demikian petuah Pak Eko.

Ketika barisan akan beranjak pergi, tiba-tiba Lintang berteriak, “Pak, Gelen datang!”

Semua mata menuju ke arah Gelen yang terlihat terengah-engah mengayuh sepedanya.

“Tidak jadi sekolah Minggu, Gelen?” tanya Pak Eko heran. Ia tidak ingin disalahkan, gara-gara acara bersepeda, Gelen bolos beribadah.

“Pada Sabtu sore kemarin kami mendapat kabar kalau sekolah Minggu untuk kelompok kami dilaksanakan pada jam 17.00,” jawab Gelen dengan sopan.

Mendengar penjelasan Gelen, Pak Eko mengajak anak-anak bertepuk tangan karena peserta sepeda santai hari itu lengkap, bahkan bertambah dengan Pak Riadi beserta cucunya.

 

Musi Rawas, 26 September 2021

PakDSus

#toleransi, #30daysreadingastorywithyourkids, #onedayonestory, #cerpenanak

 

 

 

 

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

15 thoughts on “Bersepeda Santai pada Hari Minggu (Cerpen)

  • I’m thrilled by the attention to detail in the construction of my ebike.

  • Senangnya bersepeda bersama, meningkatkan kesehatan dan menambah keakraban.
    Sarat pengetahuan.
    Semangat gowes …

  • Semangat bersepedanya sama kuat dengan semangat menerapkan nila-nilai Pancasila. Pertanyaannya, berapa kilometerkah Pak Eko bersepeda pada hari itu?

  • Gak cuma sehat, bersepeda juga bisa menambah akrab. Keren cerpen Pak D.

  • Luar biasa cerpennya, mengalir dan renyah banget. Alhamdulillah akhirnya Gelen bisa ikut, jadi Pa Eko tidak merasa bersalah.

  • Terima kasih banyak kepada para sahabat semua.

  • Keren Pak Dhe, cerpen yg sarat ilmu dan pengamalan pancasila… Mantul..

  • Gelen siswa yang patuh terhadap musyawarah. Sipat lupa manusiawi ya Pak Eko

  • Luar biaasa, Pak Eko guru yg hebat. Sudah menerapkan pembelajaran contextual ttg demokrasi dalam perencanaan megiatan refreshing..

  • Wah senangnya bersepeda ria bersama-sama. Apalagi hasil musyawarah bisa dilaksanakan tanpa saling mengganggu acara. Mantap cerpen penuh nilai.

  • Sekali dayung 3 pulau terlampaui…sehat..menyenangkan menerapkan sila pancasila..terpebuhi k1 sampai k4..materi blog bertambah..weh..weh luar biasa…..saluttttttttttttttttttttt….

  • Siiip bersepada sambil refresing dg guru dan siswa

  • Asiknya bersepeda… Semua bersuka ria .. horeee gelen jadi ikut .. tambah semangat nih…

Comments are closed.